“Lelaki yang baik dan benar-benar mencintaimu, pasti akan berusaha memperjuangkanmu, tapi jika dia tidah berusaha memperjuangkanmu, dan hanya kamu sendiri yang berjuang, bisa jadi hanya kamu yang mecintainya, tidak dengan sebaliknya”
Bicara
pernikahan, tentu bukanlah perkara yang sederhana, terlebih saat ini angka
perceraian di negara Indonesia begitu tinggi, menikah saja mungkin terlihat
mudah, tapi tidak dengan menjalani pernikahan. Pagi ini saya tidak sengaja
membuka tumblr dan membaca psotingan mas Herry Cahyadi yang menjawab pertanyaan
seorang akhwat.
Ya sebagai
akhwat mungkin ikhtiar kita hanya ada 2, menunggu seseorang datang untuk
melamar, atau bergerak, mencari jalan agar dapat bertaaruf dengan ikhwan untuk
menjemput jodoh. Apakah kamu tipe Fatimah yang hanya bisa diam, hingga Ayah
mencarikan jodoh untukmu, atau tipe Khadijah yang berani “menyatakan”
keinginannya pada Nabi Muhammad melalui perantara. Dua-duanya sah, tidak salah,
dan tidak menurunkan Izzah kita sebagai perempuan. Meskipun dibudaya sendiri
yang ada ditanah air, rasanya kurang bisa diterima jika seorang perempuan
menyatakan keinginannya untuk menikah kepada lelaki yang dituju, tapi terlepas
apapun itu, saya pernah menjalani keduanya, dengan akhir yang mungkin agak
sedikit plot twist, sedih? Iya… kecewa? Iya… dan saya sudah mulai berdamai
dengan diri sendiri.
Sungguh
melelahkan jika cinta itu sendiri, jika kamu yang harus berusaha keras berjuang
untuk mencintai seseorang, sedangkan ia tidak. Bukankah yang paling indah itu
jika kita bisa saling mencintai, dan bisa saling berbagi kasih, menerima dengan
lapang dada segala kelebihan dan kekurangan pasangan, lalu menjadikan
pernikahan diatas satu Visi Cinta Kepada Allah, hingga berakhir sampai di
JannahNya, bukan hanya di dunia.
Tapi lagi-lagi
pilihan… perempuan diatas usia 30 memang kadang sudah diwarning untuk tidak muluk-muluk dalam mencari
pasangan hidup, ada yang mau saja harusnya sudah bersyukur. Tapi sekali lagi
hidup kamu mutlak seluruhnya milik kamu, orang lain tidak berhak ikut campur
atau sekedar nyinyir dengan kondisi kelajanganmu saat ini, jangan pernah
turunkan standar dalam mempertimbangkan pasangan hidup yang baik untuk masa
depanmu, karena anak-anakmu berhak mendapatkan segala kebaikan bukan hanya dari
ibunya, tapi juga ayahnya, oleh karena itu sudah menjadi kewajiban bagi kita
kaum perempuan, untuk mencari, menemukan, atau ditemukan oleh ayah yang baik
untuk anak-anak kelak kita nanti, aamiin.
Bandung, 24
November 2022

Tidak ada komentar:
Posting Komentar