Rabu, 23 November 2022

Memperjuangkan


 
“Lelaki yang baik dan benar-benar mencintaimu, pasti akan berusaha memperjuangkanmu, tapi jika dia tidah berusaha memperjuangkanmu, dan hanya kamu sendiri yang berjuang, bisa jadi hanya kamu yang mecintainya, tidak dengan sebaliknya”

Bicara pernikahan, tentu bukanlah perkara yang sederhana, terlebih saat ini angka perceraian di negara Indonesia begitu tinggi, menikah saja mungkin terlihat mudah, tapi tidak dengan menjalani pernikahan. Pagi ini saya tidak sengaja membuka tumblr dan membaca psotingan mas Herry Cahyadi yang menjawab pertanyaan seorang akhwat.

Ya sebagai akhwat mungkin ikhtiar kita hanya ada 2, menunggu seseorang datang untuk melamar, atau bergerak, mencari jalan agar dapat bertaaruf dengan ikhwan untuk menjemput jodoh. Apakah kamu tipe Fatimah yang hanya bisa diam, hingga Ayah mencarikan jodoh untukmu, atau tipe Khadijah yang berani “menyatakan” keinginannya pada Nabi Muhammad melalui perantara. Dua-duanya sah, tidak salah, dan tidak menurunkan Izzah kita sebagai perempuan. Meskipun dibudaya sendiri yang ada ditanah air, rasanya kurang bisa diterima jika seorang perempuan menyatakan keinginannya untuk menikah kepada lelaki yang dituju, tapi terlepas apapun itu, saya pernah menjalani keduanya, dengan akhir yang mungkin agak sedikit plot twist, sedih? Iya… kecewa? Iya… dan saya sudah mulai berdamai dengan diri sendiri.

Sungguh melelahkan jika cinta itu sendiri, jika kamu yang harus berusaha keras berjuang untuk mencintai seseorang, sedangkan ia tidak. Bukankah yang paling indah itu jika kita bisa saling mencintai, dan bisa saling berbagi kasih, menerima dengan lapang dada segala kelebihan dan kekurangan pasangan, lalu menjadikan pernikahan diatas satu Visi Cinta Kepada Allah, hingga berakhir sampai di JannahNya, bukan hanya di dunia.

Tapi lagi-lagi pilihan… perempuan diatas usia 30 memang kadang sudah diwarning  untuk tidak muluk-muluk dalam mencari pasangan hidup, ada yang mau saja harusnya sudah bersyukur. Tapi sekali lagi hidup kamu mutlak seluruhnya milik kamu, orang lain tidak berhak ikut campur atau sekedar nyinyir dengan kondisi kelajanganmu saat ini, jangan pernah turunkan standar dalam mempertimbangkan pasangan hidup yang baik untuk masa depanmu, karena anak-anakmu berhak mendapatkan segala kebaikan bukan hanya dari ibunya, tapi juga ayahnya, oleh karena itu sudah menjadi kewajiban bagi kita kaum perempuan, untuk mencari, menemukan, atau ditemukan oleh ayah yang baik untuk anak-anak kelak kita nanti, aamiin.

Bandung, 24 November 2022

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar