"Hendaklah seorang murid mengetahui bahwa rendah dirinya kepada seorang Guru adalah kemuliaan, dan tunduknya adalah kebanggaan" (Tadzkirah Sami' hal 88)
Sepulang umroh,
alhamdullilah saya mendapatkan pelajaran hidup yang banyak, saya berharap
banyak kebaikan Allah anugrahkan kepada saya baik itu akhlak saya, maupun
kualitas ibadah saya, saya berharap keduanya akan menjadi lebih baik untuk saat
ini dan selanjutnya. Tapi hidup tentu saja tidak akan semulus jalan tol, setiap
hari ada saja masalah yang harus saya hadapi, hingga saya tidak menyadari bahwa
mungkin ini salah satu cara Allah meningkatkan kualitas diri saya.
Kejadian yang
terjadi beberapa hari yang lalu, singkat cerita terjadilah drama dikelas tempat
saya mengajar, dikelas dimana saya menjadi wali kelasnya, drama yang dipicu
kehadiran setan gepeng kata pak reky waktu dia masih mengajar disekolah, setan
gepeng itu adalah handphone, setan berbentuk persegi yang sering kali jadi
biang masalah disekolah, ada saja masalah yang timbul gara-gara setan gepeng
ini, dan tentunya kejadian beberapa hari lalu yang menyisakan luka dihati saya,
sebagai guru dan wali kelas dari anak-anak saya disekolah.
Yah... sakit hati
karena murid yang sudah saya anggap seperti anak saya sendiri, tiba-tiba saja
marah dan bermuka masam kepada saya, gara-gara saya mengambil handphone dari
tasnya tanpa iizin, padahal sebelumnya saya sudah meminta nya dengan baik-baik,
karena aturan disekolah tempat saya mengajar setiap wali kelas wajib
mengumpulkan handphone selama kegiatan belajar, kecuali dibutuhkan atau memang
ada kebutuhan yang mengharuskan setiap siswa menggunakan handphone.
Entahlah, entah
saya yang sensitif atau terlalu terbawa perasaan, setelah kejadian itu kami
sempat bersitegang, meskipun akhirnya saya kembalikan handphone anak itu
kepadanya, tapi mengingat ucapan dia dengan nada yang tinggi dan tatapan
wajahnya yang tidak bersahabat, secara tidak langsung telah menyakiti hati
saya, air mata saya jatuh tidak
terbendung, ya mungkin orang akan mengira saya terlalu lebay atau berlebihan,
tapi sebenarnya luka batin dalam diri saya belum benar-benar pulih, disakiti
oleh orang yang sangat kita sayangi dan kita cintai rasanya akan berkali kali
lipat sakitnya, ketimbang disakiti oleh orang lain yang kita tidak begitu
kenal.
Saya tau anak
itu anak baik, dan ditahun ketiga saya mengenalnya belum pernah saya melihat ia
semarah dan sekesal itu pada saya, saya shock iya, dan sangat kecewa, kenapa
murid yang sudah saya anggap seperti anak saya sendiri bisa berkata dan
bersikap seperti itu kepada saya, dan saya menyadari betul mengapa dalam ayat
Al Quran dan Hadist-hadist Rasullulah kita diperintahkan untuk merendahkan
suara kita dihadapan orang tua, ya.. ternyata dibentak atau dimarahi oleh anak
sendiri itu ternyata bisa menyisakan luka dihati orang tua, tapi sebagai orang
tua saya berusaha memahami hal itu, saya tau anak itu tidak bermaksud melukai
hati saya sebagai gurunya, dan orang tua disekolahnya.
Tapi
alhamdullilah setelah saya bercerita kepada salah seorang psikolog disekolah,
dan psikolog tersebut menjelaskan kondisi saya pada anak itu, akhirnya anak
itupun meminta maaf kepada saya melalui whatsapp, entahlah… anak yang sudah
kehilangan ibunya saat ia kelas 10 mudah-mudahan menyadari kesalahannya, dan
keegoisannya menganggap dirinya tidak bersalah.
Jujur saya tidak
ingin berkonflik dan punya masalah dengan siapapun, terlebih dengan orang-orang
terdekat saya, yang mungkin hampir setiap hari harus saya temui, jujur tanpa
dia minta maaf pun saya sudah memaafkan kesalahannya, saya hanya berharap suatu
saat ia bisa menjadi pribadi yang lebih baik, bagaimanapun juga Guru adalah
orang tuanya di sekolah, yang sudah selayaknya dihormati dan disayangi seperti
halnya orang tua sendiri. Semoga dia bisa menyadari ketulusan dan kasih sayang
saya kepada dia dan teman-temannya disekolah.
Ini hanya satu
kisah dari beberapa drama yang terjadi disekolah, setiap guru, setiap wali
kelas memiliki masalahnya masing-masing, walau pun kami sepakat salah satu yang
kurang dan harus diperbaiki dari anak-anak zaman sekarang adalah masalah
Akhlak, bagaimana Adabnya terhadap Guru, karena jujur banyak murid-murid yang
tidak menghormati gurunya dengan baik. Inilah yang menjadi PR kita semua, bukan
hanya Guru, tapi juga tugas orang tua dirumah untuk sama-sama mendidik
anak-anak agar dapat tumbuh menjadi manusia-manusia yang berakhlak mulia,
aamiin.
Bandung, 31
Oktober 2022

Tidak ada komentar:
Posting Komentar