“Anak orang kaya banyak gaya, sedikit yang ngerti sopan santun dan tata karma. Orang kaya asli harusnya sih berpendidikan dan beradab, maaf kalau agak keras tulisannya, tapi idealnya kaya gitu, orang kaya yang berpendidikan biasanya lebih sopan dan hormat sama orang lain”
Belakangan ini saya agak kesal
dengan anak-anak orang kaya yang gak tau sopan santun, dan kurang beradab. Padahal yang kaya orang tuanya bukan dia,
tapi begitulah saya menjumpai macam-macam murid, dari berbagai strata ekonomi,
tapi beberapa murid yang katanya anak orang kaya memang banyak yang bermasalah
dan selalu mencari ulah disekolah. Mungkin pendidikan tata karma dan pendidikan
karakter tidak terbina dirumahnya, alhasil mereka tumbuh jadi anak-anak yang
arogan, sombong, dan tidak punya rasa empati pada orang lain.
Sebagai seorang guru dan seorang
pendidik saya tidak bisa menyalahkan seratsu persen anaknya, bukankah watak dan
karakter anak itu dibentuk dalam “Keluarga”, tapi ya begitulah keluarga dan
lingkungan mau tidak mau akan membentuk watak dan kepribadian anak, itulah yang
pada akhirnya membuat beberapa orang tua memutuskan anaknya untuk menyekolahkan
anak-anaknya disekolah yang berbasis agama seperti pesantren atau sekolah
Islam. Salah? Tentu tidak, tapi perlu digarisbwahi bahwa sekolah bukan bengkel,
sekolah bukan arena sulap yang dapat merubah anak kurang baik menjadi baik,
atau membuat anak yang nakal menjadi baik, atau merubah anak yang bodoh menjadi
pintar, sekolah adalah salah satu institusi pendidikan tempat pembentukan
karakter, walaupun pembentkuka karakter yang paling utam adalah dirumah bukan
di sekolah.
Saya sangat terkesan pada
keluarga yang tidak hanya mementingkan pendidikan tapi juga peduli pada
pembentukan karakter anak, keluarga yang dilandasi KeImanan dan Ketakwaan yang memberikan
contoh keteladan melalui akhlaq yang mulia, hingga anak-anaknya dapat tumbuh
dan berkembang dalam kondisi mental yang kuat, yang dapat melahirkan anak-anak
yang bukan hanya cerdas secara intelektual tapi juga secara emosional dan
spiritual. Ideal sekali memang, walau mungkin prakteknya butuh waktu dan
perjuangan yang tidak mudah.
Hal-hal sederhana mungkin yang
bisa diajarkan kepada anak, tentang hormat kepada orang tua, dan menyayangi
yang muda, berbicara dengan sopan (merendahkan suara) dan tidak lupa dengan 3
kata sakti (maaf, tolong, dan terima kasih), hanya sebagian kecil yang dapat
diajarkan kepada anak-anak sejak kecil, semoga kebiasaan-kebiasaan baik ini
menjadi bagian dari pembentuka karakter anak hingga dewasa,. Saya berharap
kelak bisa jadi orang tua yang baik untuk anak-anak saya, dan bisa menjadi guru
yang baik untuk anak-anak saya disekolah, sehingga tidak lagi menjumpai
anak-anak yang ‘bermasalah” aamiin.
Bandung, 30 Juli 2022

Tidak ada komentar:
Posting Komentar