“Kalaulah sempat, mampirlah ke hati orang-orang yang pernah kita sakiti dan lukai. Barangkali perihnya masih ada. Sejenak tinggallah disana atau pinjamlah hati itu walau sesaat. Semoga dengan begitu kita takkan pernah lagi berifkir untuk menyakiti hati siapapun” - Aan Candra Talib
Kamu tidak akan pernah merasakan
betapa cintanya seorang Ibu dan Ayah pada anaknya, sampai kamu menjadi Ayah dan
Ibu. Orang yang mungkin akan mempertaruhkan nyawa, bahkan harga dirinya agar
kamu bisa hidup dengan layak, orang yang mungkin akan membela kamu
habis-habisan ketika semua dunia menyalahkanmu, dan orang yang mungkin akan
memaafkanmu berkali-kali walau mungkin sering kali kamu menyakiti dan
membuatnya bersedih. Orang yang mungkin merasa paling sedih ketika kelak kamu
menikah dan meninggalkan rumahnya.
Sore itu dimobil sepupu saya,
bapak menyetir dan saya duduk didepan disebelah bapak, saya liat tangan bapak
sudah mulai banyak kerutan, saya tau bapak sudah tua, sudah punya 6 cucu, tapi
bapak masih kuat menyetir jauh-jauh bahkan sampai ke Bogor dan Solo, saya hanya
berdoa, semoga disisa umurnya bapak diberikan banyak kebaikan dan keberkahan,
semakin istiqomah dalam ketaatan dan keshalihan, saya tidak bisa membayangkan
betapa sakitnya hati bapak, jika salah satu anak perempuannya disakiti oleh
laki-laki, itulah yang selalu bapak titipkan pada kaka-kaka ipar saya yang
laki-laki, agar menjaga baik-baik kakak-kakak perempuan saya.
Banyak orang bilang bahwa Ayah
adalah cinta pertama anak perempuannya, karena ayah yang baik sampai kapanpun
akan menyisakan banyak kenangan baik dihati perempuan tentang sosok “laki-laki
baik” dan meski umur saya sudah lebih dari 30 tahun, bapaklah yang paling
perhatian pada saya, bapak sering kali menyetrika pakaian kantor saya, ketika saya
pulang sore setiap hari, padahal saya sama sekali tidak memintanya, ketika saya
akan mandi pulang kerja, biasanya bapak juga yang menyiapkan air panas untuk
saya mandi, ketika boneka saya terlihat kotor dan dekil, bapak juga yang
inisiatif menyucikannya, bahkan ketika saya membeli buah mangga, karena sibuk
mengajar tambahan ini itu, sering kali buah mangga itu sudah dikupas dan
tersedia diatas meja makan, begitu saya pulang.
Bapak tidak pernah memarahi saya
untuk kesalahan-kesalahan kecil yang saya lakukan, bahkan ketika satu waktu
saya dalam kondisi sulit, bapak juga yang memeluk saya, dan membesarkan hati
saya, saya tau kesedihan saya tidak lebih besar dari kesedihan bapak, kalau ada
yang menyakiti hati saya, sudah pasti yang paling merasakan sakit itu pasti
bapak, tapi saya tau bapak orang yang sangat baik, ia tidak akan menyimpan
dendam untuk orang yang telah menyakiti hatinya, apalagi hati anak
perempuannya, semoga Allah berkahi bapak disisa umurnya dengan segala kebaikan,
satu lagi… walau Pandemi belum benar-benar berakhir, saya masih punya hajat
ingin umroh atau haji bersama bapak dan ibu, semoga Allah berkenan… aamiin
Bandung, 6 November 2021

Tidak ada komentar:
Posting Komentar