Sabtu, 06 November 2021

Kalaulah Sempat


 “Kalaulah sempat, mampirlah ke hati orang-orang yang pernah kita sakiti dan lukai. Barangkali perihnya masih ada. Sejenak tinggallah disana atau pinjamlah hati itu walau sesaat. Semoga dengan begitu kita takkan pernah lagi berifkir untuk menyakiti hati siapapun” - Aan Candra Talib

Kamu tidak akan pernah merasakan betapa cintanya seorang Ibu dan Ayah pada anaknya, sampai kamu menjadi Ayah dan Ibu. Orang yang mungkin akan mempertaruhkan nyawa, bahkan harga dirinya agar kamu bisa hidup dengan layak, orang yang mungkin akan membela kamu habis-habisan ketika semua dunia menyalahkanmu, dan orang yang mungkin akan memaafkanmu berkali-kali walau mungkin sering kali kamu menyakiti dan membuatnya bersedih. Orang yang mungkin merasa paling sedih ketika kelak kamu menikah dan meninggalkan rumahnya.

Sore itu dimobil sepupu saya, bapak menyetir dan saya duduk didepan disebelah bapak, saya liat tangan bapak sudah mulai banyak kerutan, saya tau bapak sudah tua, sudah punya 6 cucu, tapi bapak masih kuat menyetir jauh-jauh bahkan sampai ke Bogor dan Solo, saya hanya berdoa, semoga disisa umurnya bapak diberikan banyak kebaikan dan keberkahan, semakin istiqomah dalam ketaatan dan keshalihan, saya tidak bisa membayangkan betapa sakitnya hati bapak, jika salah satu anak perempuannya disakiti oleh laki-laki, itulah yang selalu bapak titipkan pada kaka-kaka ipar saya yang laki-laki, agar menjaga baik-baik kakak-kakak perempuan saya.

Banyak orang bilang bahwa Ayah adalah cinta pertama anak perempuannya, karena ayah yang baik sampai kapanpun akan menyisakan banyak kenangan baik dihati perempuan tentang sosok “laki-laki baik” dan meski umur saya sudah lebih dari 30 tahun, bapaklah yang paling perhatian pada saya, bapak sering kali menyetrika pakaian kantor saya, ketika saya pulang sore setiap hari, padahal saya sama sekali tidak memintanya, ketika saya akan mandi pulang kerja, biasanya bapak juga yang menyiapkan air panas untuk saya mandi, ketika boneka saya terlihat kotor dan dekil, bapak juga yang inisiatif menyucikannya, bahkan ketika saya membeli buah mangga, karena sibuk mengajar tambahan ini itu, sering kali buah mangga itu sudah dikupas dan tersedia diatas meja makan, begitu saya pulang.

Bapak tidak pernah memarahi saya untuk kesalahan-kesalahan kecil yang saya lakukan, bahkan ketika satu waktu saya dalam kondisi sulit, bapak juga yang memeluk saya, dan membesarkan hati saya, saya tau kesedihan saya tidak lebih besar dari kesedihan bapak, kalau ada yang menyakiti hati saya, sudah pasti yang paling merasakan sakit itu pasti bapak, tapi saya tau bapak orang yang sangat baik, ia tidak akan menyimpan dendam untuk orang yang telah menyakiti hatinya, apalagi hati anak perempuannya, semoga Allah berkahi bapak disisa umurnya dengan segala kebaikan, satu lagi… walau Pandemi belum benar-benar berakhir, saya masih punya hajat ingin umroh atau haji bersama bapak dan ibu, semoga Allah berkenan… aamiin

Bandung, 6 November 2021

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar