Sabtu, 24 Juli 2021

Masak

 


“Jika memasak itu adalah syarat wajib bagi perempuan untuk dinikahi, mungkin tidak semua perempuan didunia akan menikah sekarang”

Tahun lalu salah satu guru baru disekolah saya bercerita tentang kehidupannya setelah menikah, karena ia dan suami perantauan dari kota diluar bandung, akhirnya setelah menikah mereka memutuskan untuk mengontrak disebuah rumah, saya sebenarnya hanya ingin bertanya tentang masak apa ia hari ini, tapi dia menjawab dengan sederhana “ aku gak bisa masak bu... lagian suami aku gak rewel bu, beli nasi padang aja atau go food, dah cukup hahahhaa”  aku? tertegun, berfikir masih ada laki-laki baik yang tidak mempermasalahkan tentang “masak memasak”

Sementara diluar sana masih ada para suami yang uring-uringan ketika masakan istrinya tidak enak, asin, terlalu pedas, atau tidak sesuai selera lidahnya, padahal mereka tidak tau dibalik masakan yang tidak enak itu, ada keinginan si istri untuk memberikan yang terbaik untuk suaminya, sesuatu yang seharusnya tidak menyulut pertengkaran kecil, tidak bisa masak, tidak bisa beres-beres, tidak bisa mencuci, tidak bersih mengepel, istrimu bukan pembantu... bisa jadi dirumahnya memang ia tidak pernah mengerjakan itu, bisa jadi dikerjakan oleh orang tuanya, atau oleh asisten rumah tangganya.

Makan adalah kebutuhan pokok kita sebagai manusia, ada banyak cara agar kita bisa makan walau mungkin makanannya tidak dimasak oleh tangan kita atau oleh tangan istri kita, tapi dibalik kekurang istri pasti ada juga kelebihan yang dia miliki, daripada terus ribut memarahi istri, kenapa tidak dibiayai saja istrinya untuk ikut kelas memasak, diberikan seperangkat alat masak plus bahan-bahannya,  atau memberikan ia kesempatan belajar lebih banyak pada ibu atau ibu mertuanya. Kalau sekiranya memang tidak bisa masak dan memang tidak enak masakannya, beli saja diluar jika ada uang lebih, jangan sampai hati istri jadi sedih karena keseringan dimarahi.

Bandung, 24 Juli 2021

Tidak ada komentar:

Posting Komentar