“Jika memasak itu adalah syarat wajib bagi perempuan untuk dinikahi, mungkin tidak semua perempuan didunia akan menikah sekarang”
Tahun lalu salah satu guru baru
disekolah saya bercerita tentang kehidupannya setelah menikah, karena ia dan
suami perantauan dari kota diluar bandung, akhirnya setelah menikah mereka memutuskan
untuk mengontrak disebuah rumah, saya sebenarnya hanya ingin bertanya tentang
masak apa ia hari ini, tapi dia menjawab dengan sederhana “ aku gak bisa masak
bu... lagian suami aku gak rewel bu, beli nasi padang aja atau go food, dah
cukup hahahhaa” aku? tertegun, berfikir
masih ada laki-laki baik yang tidak mempermasalahkan tentang “masak memasak”
Sementara diluar sana masih ada
para suami yang uring-uringan ketika masakan istrinya tidak enak, asin, terlalu
pedas, atau tidak sesuai selera lidahnya, padahal mereka tidak tau dibalik
masakan yang tidak enak itu, ada keinginan si istri untuk memberikan yang
terbaik untuk suaminya, sesuatu yang seharusnya tidak menyulut pertengkaran
kecil, tidak bisa masak, tidak bisa beres-beres, tidak bisa mencuci, tidak
bersih mengepel, istrimu bukan pembantu... bisa jadi dirumahnya memang ia tidak
pernah mengerjakan itu, bisa jadi dikerjakan oleh orang tuanya, atau oleh
asisten rumah tangganya.
Makan adalah kebutuhan pokok kita
sebagai manusia, ada banyak cara agar kita bisa makan walau mungkin makanannya
tidak dimasak oleh tangan kita atau oleh tangan istri kita, tapi dibalik
kekurang istri pasti ada juga kelebihan yang dia miliki, daripada terus ribut
memarahi istri, kenapa tidak dibiayai saja istrinya untuk ikut kelas memasak,
diberikan seperangkat alat masak plus bahan-bahannya, atau memberikan ia kesempatan belajar lebih
banyak pada ibu atau ibu mertuanya. Kalau sekiranya memang tidak bisa masak dan
memang tidak enak masakannya, beli saja diluar jika ada uang lebih, jangan
sampai hati istri jadi sedih karena keseringan dimarahi.
Bandung, 24 Juli 2021

Tidak ada komentar:
Posting Komentar