Apa yang kamu cari dalam Pernikahan?
Kebahagiaan? Kalo nanti gak
bahagia?
Kemapanan karena ada yang
menjamin hidup kamu, kalau nanti gak mapan?
Anak? Kalo nanti gak punya anak?
Tiba-tiba saja saya teringat
pertanyaan seorang psikolog di Salman ITB, iya siang itu saya dan sahabat saya
yang saat itu sudah berumur 27 tahun belum juga menikah mencoba berkonsultasi
dengan psikolog karena kami yang ikut sekolah Pra Nikah di ITB diberikan akses
untuk konsultasi dengan psikolog.
“Iya... saya juga pernah
mengalami masa-masa seperti kalian, saya menikah juga telat, bukan diumur ideal
wanita untuk menikah, saya menikah saat berumur 30 tahun, dan baru punya anak
umur 35 tahun, sulit mungkin iya... tapi saya yakin Allah tidak akan membebani
seseorang diluar batas kemampuannya, saya dan suami saya pun butuh proses untuk
dapat beradaptasi dan menerima satu sama lain, bertengkar??? itu juga sering,
tapi kembali lagi saat bertengkar, kita berdua akan sama-sama berinterospeksi
diri sama-sama mau belajar meminta maaf, meski itu sullit, dan merasa kita
tidak bersalah, tapi janji suci saat akad dan nasehat pernikahan selalu menjadi
pegangan kami dalam berumah tangga, kami menikah untuk ibadah, bukan untuk
mencari kebahagiaan dunia. Cobalah untuk menurunkan ego kalian, tertundanya
kalian ”menikah” bisa jadi itu cara Allah melindungi kalian untuk kelak
dipertemukan dengan orang yang tepat, bukan sekarang, tapi nanti. Dan ingatlah,
ujung dari pernikahan itu hanya ada dua, kematian atau perceraian, siap atau
tidak siap, suatu saat kita akan berpisah dengan pasangan hidup kita, jadi
kuatkan Iman kalian, banyak belajar, dan berdoalah, semoga kelak jodoh kalian
datang diwaktu yang paling tepat, aamiin”
Selesai konsultasi dengan
psikolog sepanjang jalan fikiran saya berputar-putar, hingga beberapa tahun
kemudian, entah mengapa nasehat psikolog ini terus tertanam di ingatan saya, “Apa
yang kamu cari dalam pernikahan?” tidak semua orang yang menikah akan merasakan
kebahagiaan, karena kebahagiaan ditentukan oleh diri kita sendiri, jangan kita
yang dikendalikan oleh perasaan. Belum menikah bukan alasan kamu tidak bahagia,
kamu akan tetap bahagia apapun kondisinya saat kamu mampu mensyukuri apa yang
sudah Allah berikan dalam hidup kamu. Mungkin terdengar klise, tapi
kenyataannya memang seperti itu, kita yang merasa tidak pernah cukup, dan tidak
merasa puas, yang membuat kita sulit untuk bahagia.
Bandung, 6 April 2021

Tidak ada komentar:
Posting Komentar