Selasa, 06 April 2021

Nasihat Psikolog

 


Apa yang kamu cari dalam Pernikahan?

Kebahagiaan? Kalo nanti gak bahagia?

Kemapanan karena ada yang menjamin hidup kamu, kalau nanti gak mapan?

Anak? Kalo nanti gak punya anak?

Tiba-tiba saja saya teringat pertanyaan seorang psikolog di Salman ITB, iya siang itu saya dan sahabat saya yang saat itu sudah berumur 27 tahun belum juga menikah mencoba berkonsultasi dengan psikolog karena kami yang ikut sekolah Pra Nikah di ITB diberikan akses untuk konsultasi dengan psikolog.

“Iya... saya juga pernah mengalami masa-masa seperti kalian, saya menikah juga telat, bukan diumur ideal wanita untuk menikah, saya menikah saat berumur 30 tahun, dan baru punya anak umur 35 tahun, sulit mungkin iya... tapi saya yakin Allah tidak akan membebani seseorang diluar batas kemampuannya, saya dan suami saya pun butuh proses untuk dapat beradaptasi dan menerima satu sama lain, bertengkar??? itu juga sering, tapi kembali lagi saat bertengkar, kita berdua akan sama-sama berinterospeksi diri sama-sama mau belajar meminta maaf, meski itu sullit, dan merasa kita tidak bersalah, tapi janji suci saat akad dan nasehat pernikahan selalu menjadi pegangan kami dalam berumah tangga, kami menikah untuk ibadah, bukan untuk mencari kebahagiaan dunia. Cobalah untuk menurunkan ego kalian, tertundanya kalian ”menikah” bisa jadi itu cara Allah melindungi kalian untuk kelak dipertemukan dengan orang yang tepat, bukan sekarang, tapi nanti. Dan ingatlah, ujung dari pernikahan itu hanya ada dua, kematian atau perceraian, siap atau tidak siap, suatu saat kita akan berpisah dengan pasangan hidup kita, jadi kuatkan Iman kalian, banyak belajar, dan berdoalah, semoga kelak jodoh kalian datang diwaktu yang paling tepat, aamiin”

Selesai konsultasi dengan psikolog sepanjang jalan fikiran saya berputar-putar, hingga beberapa tahun kemudian, entah mengapa nasehat psikolog ini terus tertanam di ingatan saya, “Apa yang kamu cari dalam pernikahan?” tidak semua orang yang menikah akan merasakan kebahagiaan, karena kebahagiaan ditentukan oleh diri kita sendiri, jangan kita yang dikendalikan oleh perasaan. Belum menikah bukan alasan kamu tidak bahagia, kamu akan tetap bahagia apapun kondisinya saat kamu mampu mensyukuri apa yang sudah Allah berikan dalam hidup kamu. Mungkin terdengar klise, tapi kenyataannya memang seperti itu, kita yang merasa tidak pernah cukup, dan tidak merasa puas, yang membuat kita sulit untuk bahagia.

Bandung, 6 April 2021

Tidak ada komentar:

Posting Komentar