“Sebelum kamu meminjamkan uang,
kamu harus mengikhlaskan bahwa uang yang kamu pinjamkan pada orang lain, banyak
ataupun sedikit belum tentu akan kembali...”
Itulah alasan yang selalu saya
tanamkan pada diri saya sebelum meminjamkan uang pada orang lain, saya pernah
merasakan hidup dengan ekonomi serba terbatas dahulu, tau rasanya tidak punya
uang, tau rasanya meminjam uang pada orang lain, sepertinya rasa “ malu” sudah
jauh-jauh ditinggalkan, yang terpenting pada saat itu, bisa makan, bisa
sekolah, dan melanjutkan kuliah. Saya pernah merasakan itu waktu kuliah, dua
semester berlalu dengan penangguhan uang kuliah, saya bersama bapak terpaksa
datang ke rumah orang tua sahabat saya yang terpandang untuk meminjam uang agar
bisa tetap melanjutkan kuliah, alhamdullilah beliau adalah orang baik yang
sangat dermawan, hingga akhirnya saya bisa lulus kuliah, bisa bekerja, dan bisa
mengembalikan uang yang dipinjam saat kuliah dulu. Pengalaman itulah yang
mungkin disadari atau tidak membentuk diri sekarang, jadilah orang kaya yang
dermawan, kalaupun tidak jadi orang kaya, minimal bisa hidup mandiri, tidak
berhutang, dan tidak menyusahka hidup orang lain.
Nyatanya roda kehidupan terus
berputar, tidak mungkin Allah kasih susah terus hidup kita, alhamdullilah sejak
bekerja saya bisa hidup jauh lebih baik, bisa membantu orang tua, bisa
bersedekah, dan masih bisa menyisihkan sedikit uang untuk tabungan haji. Dan
mungkin karena saat ini sayalah satu-satunya anak perempuan bapak dan ibu yang
masih bekerja, dan belum dikaruniai anak oleh Allah, saya masih bisa
menyisihkan sebagian gaji saya untuk ditabung. Itu pula yang membuat orang lain
atau keluarga mengganggap saya punya uang “banyak” aamiin. Karena saya pernah
merasakan rasanya hidup dalam segala keprihatinan, membuat hati saya menjadi
lembut, saya termasuk orang yang “gak tegaaan” kepada orang lain.
Entah bagaimana ceritanya tapi
belakangan ini ada beberapa orang yang meminjam uang pada saya, yang pertama
adalah kakak saya, yah kakak saya yang sering kali pekerjaannya tidak tetap dan
berpindah-pindah, kalau tidak ada uang sayalah saudara kandung yang akan
dimintainya tolong masalah finansial, untuk yang satu ini, saya sepertinya
sudah mengikhlaskan saja, karena memang mungkin rizkynya dia hanya ada untuk
memenuhi kebutuhan sehari-harinya saja, jarang sekali saya menagih. Yang kedua
adalah sudara sepupu dari bapak, mas yang ini dulu pekerjaannya cukup baik,
tabungan serta assetnya juga cukup banyak kalo saya fikir, tapi setelah anaknya
mahasiswa, beliau juga mengalami kesulitan finansial, beliau meminjam uang pada
saya, meskipun telat beberapa minggu akhirnya hutangnya dilunasi juga.
Yang ketiga adalah saudara sepupu
dari pihak ibu, dia adalah seorang janda beranak satu yang harus membiayai
hidupnya sendiri, memang kurang amanah tapi beliau cukup baik pada saya dan
keluarga, suaminya wafat karena sakit, sulit bagi saya untuk menolak jika dia
butuh bantuan finansial, saya tau kalau saya cerita pada orang tua, mereka
pasti akan marah jika tau saya meminjamkan uang pada sepupu saya ini, tapi
sudahlah... akhirnya saya pinjamkan beberapa ratus ribu, hingga detik ini
alhamdullilah belum dibayar, sehari-hari ia bekerja dipasar.
Yang keempat adalah sahabat kecil
saya dari SD, anak tetangga pula, sama... ia terkenal kurang amanah, tapi
semenjak ia menikah dan punya anak satu, kehidupan finansialnya juga tidak
terlalu baik, pernah satu waktu token listrik dikontraknnya mati, sementara ia
tidak pegang uang, karena suaminya sedang keluar kota, dia bilang uangnya aka
dikembalikan jika suaminya sudah pulang, sekarang sudah 3 bulan berlalu ia
belum juga melunasi hutangnya, besar sih tidak, tapi lumayanlah untuk beli
bensin dan bekal saya ke sekolah, mau ditagih juga bilangnya besok mau kerumah
segala macam, tapi wallahualam hingga sekarang ia tidak pernah datang kerumah,
bahkan sekedar untuk bilang maaf di WA juga tidak.
Yang Kelima adalah sahabat kuliah
saya dahulu, entahlah belakangan ini dia memiliki masalah finansial yang cukup
rumit dikantornya, kebetulan ia pegang keuangan dikantor, dan ternyata entah
kenapa ada selisih keuangan yang cukup besar dikantornya, yang mau tidak mau
menjadi tanggung jawab dia, dan harus ia yang menutupi kekurangan uangnya,
sedih sih memang, belum lagi masalah keluarganya juga yang bermasalah, ia
pernah berniat meminjam uang dengan nominal yang cukup besar pada saya, tapi
karena saya tidak punya tabungan sebanyak itu, saya tidak bisa memberikan
pinjaman padanya, namun beberapa bulan lalu ia meminta ditransfer 100rb pada
saya, yasudahlah... bagi saya kalaupun tidak dikembalikan tidak apa-apa, anggap
saja itu bantuan kecil saya sebagai sahabat untuknya. Karena saya tidak bisa
banyak membantu untuk masalah finansialnya yang jauh lebih berat dari itu.
Saya hanya bisa menarik nafas
panjang... sambil mengucap hamdallah. Saya masih bisa bernafas dengan lega,
alhamdullilah saya tidak punya hutang pada orang lain, meski mereka tidak tau
saat-saat tertentu saya benar-benar tidak pegang uang, dan saya terpaksa
menggadaikan emas saya dipegadaian untuk melanjutkan hidup. Masalahnya tabungan
haji saya tidak bisa diambil sewaktu-waktu, dan tidak bisa menutup rekening
haji tersebut secara mendadak. Yah saya berusaha mengelola keuangan saya dengan
sebaik-baiknya, namun ada banyak hal diluar prediksi yang membuat saya mau
tidak mau harus mengeluarkan uang lebih, saat saudara sakit, atau ada undangan
nikah, teman yang melahirkan dan semacamnya, saya mau tidak mau harus punya
uang lebih kan ?
Bapak pernah bilang pada saya
“Kalau kamu punya uang lebih, yah
pinjamkan saja uang kamu, apalagi kalau itu masih keluarga. Setidaknya kamu
harus bersyukur, kamu yang dikasih uang lebih oleh Allah, bukan kamu yang
berhutang, tapi kalau kamu tidak punya uang lebih, sampaikan saja baik-baik
kondisinya seperti apa. Apa yang kita tanam, itulah kelak yang akan kita tuai
nanti, semoga Allah akan menolong kamu saat kamu butuh pertolongan”
Sebenarnya saya sendiri pun masih
suka kesal dengan diri sendiri, ketika saya kecewa menagih uang saya diluar
yang dipinjam oleh orang yang tidak amanah dan tidak bertanggung jawab, tapi
sebenarnya itu kesalahan saya sendiri (kenapa pake dipinjamkan pada orang macam
itu), oleh karena itu... sebaiknya kalau belum bisa mengikhlaskan uang untuk “hilang/pergi”
sebaiknya anda tidak meminjamkan uang pada orang lain. Kecuali dengan
perjanjian dan jaminan, tapi ingat, anda manusia bukan bank yang meminjamkan
uang dengan jaminan pada orang lain.
Intinya kalau suatu saat uang
yang anda pinjamkan itu tidak pernah kembali, ikhlaskan saja..., semoga Allah
memberikan balasan yang lebih baik atas pinjaman itu, aamiin
Bandung, 11 Februari 2020

Tidak ada komentar:
Posting Komentar