Senin, 10 Februari 2020

Hutang


“Sebelum kamu meminjamkan uang, kamu harus mengikhlaskan bahwa uang yang kamu pinjamkan pada orang lain, banyak ataupun sedikit belum tentu akan kembali...”


Itulah alasan yang selalu saya tanamkan pada diri saya sebelum meminjamkan uang pada orang lain, saya pernah merasakan hidup dengan ekonomi serba terbatas dahulu, tau rasanya tidak punya uang, tau rasanya meminjam uang pada orang lain, sepertinya rasa “ malu” sudah jauh-jauh ditinggalkan, yang terpenting pada saat itu, bisa makan, bisa sekolah, dan melanjutkan kuliah. Saya pernah merasakan itu waktu kuliah, dua semester berlalu dengan penangguhan uang kuliah, saya bersama bapak terpaksa datang ke rumah orang tua sahabat saya yang terpandang untuk meminjam uang agar bisa tetap melanjutkan kuliah, alhamdullilah beliau adalah orang baik yang sangat dermawan, hingga akhirnya saya bisa lulus kuliah, bisa bekerja, dan bisa mengembalikan uang yang dipinjam saat kuliah dulu. Pengalaman itulah yang mungkin disadari atau tidak membentuk diri sekarang, jadilah orang kaya yang dermawan, kalaupun tidak jadi orang kaya, minimal bisa hidup mandiri, tidak berhutang, dan tidak menyusahka hidup orang lain.

Nyatanya roda kehidupan terus berputar, tidak mungkin Allah kasih susah terus hidup kita, alhamdullilah sejak bekerja saya bisa hidup jauh lebih baik, bisa membantu orang tua, bisa bersedekah, dan masih bisa menyisihkan sedikit uang untuk tabungan haji. Dan mungkin karena saat ini sayalah satu-satunya anak perempuan bapak dan ibu yang masih bekerja, dan belum dikaruniai anak oleh Allah, saya masih bisa menyisihkan sebagian gaji saya untuk ditabung. Itu pula yang membuat orang lain atau keluarga mengganggap saya punya uang “banyak” aamiin. Karena saya pernah merasakan rasanya hidup dalam segala keprihatinan, membuat hati saya menjadi lembut, saya termasuk orang yang “gak tegaaan”  kepada orang lain.

Entah bagaimana ceritanya tapi belakangan ini ada beberapa orang yang meminjam uang pada saya, yang pertama adalah kakak saya, yah kakak saya yang sering kali pekerjaannya tidak tetap dan berpindah-pindah, kalau tidak ada uang sayalah saudara kandung yang akan dimintainya tolong masalah finansial, untuk yang satu ini, saya sepertinya sudah mengikhlaskan saja, karena memang mungkin rizkynya dia hanya ada untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya saja, jarang sekali saya menagih. Yang kedua adalah sudara sepupu dari bapak, mas yang ini dulu pekerjaannya cukup baik, tabungan serta assetnya juga cukup banyak kalo saya fikir, tapi setelah anaknya mahasiswa, beliau juga mengalami kesulitan finansial, beliau meminjam uang pada saya, meskipun telat beberapa minggu akhirnya hutangnya dilunasi juga.

Yang ketiga adalah saudara sepupu dari pihak ibu, dia adalah seorang janda beranak satu yang harus membiayai hidupnya sendiri, memang kurang amanah tapi beliau cukup baik pada saya dan keluarga, suaminya wafat karena sakit, sulit bagi saya untuk menolak jika dia butuh bantuan finansial, saya tau kalau saya cerita pada orang tua, mereka pasti akan marah jika tau saya meminjamkan uang pada sepupu saya ini, tapi sudahlah... akhirnya saya pinjamkan beberapa ratus ribu, hingga detik ini alhamdullilah belum dibayar, sehari-hari ia bekerja dipasar.

Yang keempat adalah sahabat kecil saya dari SD, anak tetangga pula, sama... ia terkenal kurang amanah, tapi semenjak ia menikah dan punya anak satu, kehidupan finansialnya juga tidak terlalu baik, pernah satu waktu token listrik dikontraknnya mati, sementara ia tidak pegang uang, karena suaminya sedang keluar kota, dia bilang uangnya aka dikembalikan jika suaminya sudah pulang, sekarang sudah 3 bulan berlalu ia belum juga melunasi hutangnya, besar sih tidak, tapi lumayanlah untuk beli bensin dan bekal saya ke sekolah, mau ditagih juga bilangnya besok mau kerumah segala macam, tapi wallahualam hingga sekarang ia tidak pernah datang kerumah, bahkan sekedar untuk bilang maaf di WA juga tidak.

Yang Kelima adalah sahabat kuliah saya dahulu, entahlah belakangan ini dia memiliki masalah finansial yang cukup rumit dikantornya, kebetulan ia pegang keuangan dikantor, dan ternyata entah kenapa ada selisih keuangan yang cukup besar dikantornya, yang mau tidak mau menjadi tanggung jawab dia, dan harus ia yang menutupi kekurangan uangnya, sedih sih memang, belum lagi masalah keluarganya juga yang bermasalah, ia pernah berniat meminjam uang dengan nominal yang cukup besar pada saya, tapi karena saya tidak punya tabungan sebanyak itu, saya tidak bisa memberikan pinjaman padanya, namun beberapa bulan lalu ia meminta ditransfer 100rb pada saya, yasudahlah... bagi saya kalaupun tidak dikembalikan tidak apa-apa, anggap saja itu bantuan kecil saya sebagai sahabat untuknya. Karena saya tidak bisa banyak membantu untuk masalah finansialnya yang jauh lebih berat dari itu.

Saya hanya bisa menarik nafas panjang... sambil mengucap hamdallah. Saya masih bisa bernafas dengan lega, alhamdullilah saya tidak punya hutang pada orang lain, meski mereka tidak tau saat-saat tertentu saya benar-benar tidak pegang uang, dan saya terpaksa menggadaikan emas saya dipegadaian untuk melanjutkan hidup. Masalahnya tabungan haji saya tidak bisa diambil sewaktu-waktu, dan tidak bisa menutup rekening haji tersebut secara mendadak. Yah saya berusaha mengelola keuangan saya dengan sebaik-baiknya, namun ada banyak hal diluar prediksi yang membuat saya mau tidak mau harus mengeluarkan uang lebih, saat saudara sakit, atau ada undangan nikah, teman yang melahirkan dan semacamnya, saya mau tidak mau harus punya uang lebih kan ?

Bapak pernah bilang pada saya

“Kalau kamu punya uang lebih, yah pinjamkan saja uang kamu, apalagi kalau itu masih keluarga. Setidaknya kamu harus bersyukur, kamu yang dikasih uang lebih oleh Allah, bukan kamu yang berhutang, tapi kalau kamu tidak punya uang lebih, sampaikan saja baik-baik kondisinya seperti apa. Apa yang kita tanam, itulah kelak yang akan kita tuai nanti, semoga Allah akan menolong kamu saat kamu butuh pertolongan”

Sebenarnya saya sendiri pun masih suka kesal dengan diri sendiri, ketika saya kecewa menagih uang saya diluar yang dipinjam oleh orang yang tidak amanah dan tidak bertanggung jawab, tapi sebenarnya itu kesalahan saya sendiri (kenapa pake dipinjamkan pada orang macam itu), oleh karena itu... sebaiknya kalau belum bisa mengikhlaskan uang untuk “hilang/pergi” sebaiknya anda tidak meminjamkan uang pada orang lain. Kecuali dengan perjanjian dan jaminan, tapi ingat, anda manusia bukan bank yang meminjamkan uang dengan jaminan pada orang lain.

Intinya kalau suatu saat uang yang anda pinjamkan itu tidak pernah kembali, ikhlaskan saja..., semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik atas pinjaman itu, aamiin

Bandung, 11 Februari 2020



Tidak ada komentar:

Posting Komentar