Minggu, 19 Januari 2020

VIP


"The more you Love, the more it Hurts" -Lany

Kemarin saya baru saja selesai menonton drama korea VIP, hasil rekomendasi dari temen kantor yang sudah berkeluarga, iya ini mungkin ceritanya agak sensitif yaitu tentang “perselingkuhan”, sepertinya tidak terlalu cocok untuk orang-orang yang masih melajang, untuk orang-orang yang sudah menikah bisa jadi referensi menarik, bahwa sejatinya merawat cinta dalam pernikahan tidakah mudah. Komitmen diatas pernikahan (Mitsaqon Gholidzon) yang dimulai dengan akad bagi kami umat Islam sangatlah suci, sebagaimana yang pernah dijelaskan oleh Ustad Salim A Fillah, seumpama perjanjian Allah dengan kaum Yahudi di bukit Thursina (QS An Nissa :54) dan  perjanjian suci antara Allah dengan para Nabi dan Rasul (QS Al Ahzab:7). Menonton drama ini memang bikin emosi naik apalagi buat kaum perempuan berhati lembut seperti saya wkwkkwkwkw, yang saking lembutnya kalo dibentak sedikit pasti langsung nangis, apalagi kalau dimarahin dan diomongin yang enggak-enggak.

Saya kasih spoilernya aja sedikit, ini bercerita tentang sepasang suami istri yang sangat-sangat ideal dimata orang-orang, termasuk orang dikantornya, karena selain cantik dan tampan, keduanya punya karir yang bagus dikantor, bisa bekerja secara profesional meski berada di satu tim, dan suaminya sebagai atasannya. Usia pernikahan mereka sudah 10 tahun, pernah hamil sang istri namun kemudian bayinya meninggal, dan mereka harus berusaha melanjutkan kehidupan pernikahan mereka tanpa kehadiran seorang anak. Namun dikemudian hari ternyata,sang suami yang dikenal baik, hangat, dan perhatian oleh sang istri berselingkuh dengan teman satu kantornya, bahkan satu tim pula dengan si perempuan tokoh utama yang diperankan oleh Jang Nara.

Terlepas apapun alasan suami berselingkuh, tetap saja itu kesalahan. Dan ternyata sang suami yang begitu dicintai oleh istrinya menyimpan banyak rahasia yang tidak pernah diketahui oleh sang istri, setelah perselingkuhan itu terbongkar kemudian rahasia-rahasia sang suami dan masa lalunya akhirnya diketahui sang Istri. Istrinya merasa kecewa, sakit hati, dan hancur mengetahui semuanya, dan tentu akhir cerita, akhirnya suami istri ini tidak bisa lagi melanjutkan kehidupan  pernikahan mereka, sang istri ingin menyudahi dan mengakhiri pernikahnnya, ia merasa tidak mengenal suaminya, dan sang suami hanya bisa pasrah, ia tau sudah menyakiti hati istrinya, dan ia menerima keputusan istrinya unuk berpisah, mereka berdua akhirnya bercerai.

Diakhir cerita, sang suami mencetak film yang ada dikameranya, ia melihat hasil cetakan film itu, isinya adalah foto-foto sang istri yang ia foto secara candid, ia pun menangis, ia sadar istrinya benar-benar mencintainya dengan tulus, dan sejatinya hati kecilnya tak mampu berbohong bahwa ia sangat mencintai istrinya itu, itulah yang tak pernah ia temui saat ia bersama selingkuhannya, ia merasa ada yang kosong. Akhirnya ia hanya bisa menyesali apa yang terjadi, ia tak mampu menahan air matanya, ia menangis sambil memegang foto-foto istrinya ditangan.

Sedih yah... ? iya saya juga sedih melihatnya. Tapi itulah yang namanya hidup, melihatnya saja sudah menguras emosi dan air mata, apalagi kalau kita menjalaninya dalam kehidupan nyata. Itulah yang terjadi pada salah satu sahabat terdekat saya sekarang, tiba-tiba saja teringat ia tengah menghadapi masalah yang sama dengan drama korea diatas, sedihnya bukan hanya berselingkuh, sahabat saya yang sudah dikarunia satu orang putra ini juga harus mengalami kekerasan dari suaminya, ia mengalami KDRT hingga beberapa kali menderita lebam diwajahnya, sedih memang. Dan beberapa minggu kemarin saya mencoba menyapanya lewat pesan di whatssapp

“Gimana teh sidangnya? Udah Beres ?

“Alhamdullilah kemarin sidang putusan teh”

“Udah beres berarti? diminta bukti-bukti gak ?”

“Beres alhamdullilah, enggak Cuma ditanya saksi-saksi aja”

“Syukur atuh beres, alhamdullilah”

“Alhamdullilah teh plong, tinggal nata hidup lagi”

“Bismillah aja teh tawakal sama Allah, Insya Allah dikasih ganti yang lebih baik, aamiin”

Begitulah... tidak pernah ada yang baik-baik saja dari sebuah perpisahan. Apalagi perpisahan sebuah rumah tangga. Menata hidup baru dengan status baru dalam masyarakat patriarki dan majemuk yang masih kental memegang teguh adat istiadat, pasti akan selalu ada cibiran akan status sosial seseorang, apalagi bagi perempuan yang  berstatus janda. Mereka lebih banyak melihat sisi negatif dari perempuan-perempuan yang memang tidak baik, tapi ketika seorang perempuan menyandang status sebagai janda, mereka bukanlah makhluk yang hina. Jika memang statusnya hina, mungkin Rasullulah tidak akan menikahi Siti Khadijah yang berstatus janda. Percayalah... masih banyak perempuan-perempuan mulia yang kini hidup sendiri tanpa suami, karena suaminya sudah meninggal atau sudah bercerai dengannya.

Wanita-wanita mulia yang harus membanting tulang menghidupi dirinya sendiri, menghidupi orang tuanya, dan menghidupi anak-anaknya tanpa suami. Mereka yang mungkin sering dicibir oleh perempuan-perempuan lain karena dianggap membahayakan bisa merebut suamiya sebagai pelakor, jauh-jauh sekali dari itu.... mereka masih memiliki Iman dihatinya, merekalah yang mungkin lebih mulia dari diri kita yang hanya bisa memandang sebelah mata, kita tidak pernah tau pengorbanan dan penderitaan yang mereka alami sebelumnya. Semoga kelak Allah menjaga keluarga kita dari segala bentuk keburukan dan fitnah dunia, semoga pasangan hidup kita, orang yang dapat membersamai kita tidak hanya didunia, tapi juga hingga di Jannahnya, Aamiin.

Bandung, 20 Januari 2020



Tidak ada komentar:

Posting Komentar