"The more you Love, the more it Hurts" -Lany
Kemarin saya
baru saja selesai menonton drama korea VIP, hasil rekomendasi dari temen kantor
yang sudah berkeluarga, iya ini mungkin ceritanya agak sensitif yaitu tentang “perselingkuhan”,
sepertinya tidak terlalu cocok untuk orang-orang yang masih melajang, untuk
orang-orang yang sudah menikah bisa jadi referensi menarik, bahwa sejatinya
merawat cinta dalam pernikahan tidakah mudah. Komitmen diatas pernikahan
(Mitsaqon Gholidzon) yang dimulai dengan akad bagi kami umat Islam sangatlah
suci, sebagaimana yang pernah dijelaskan oleh Ustad Salim A Fillah, seumpama
perjanjian Allah dengan kaum Yahudi di bukit Thursina (QS An Nissa :54)
dan perjanjian suci antara Allah dengan
para Nabi dan Rasul (QS Al Ahzab:7). Menonton drama ini memang bikin emosi naik
apalagi buat kaum perempuan berhati lembut seperti saya wkwkkwkwkw, yang saking
lembutnya kalo dibentak sedikit pasti langsung nangis, apalagi kalau dimarahin
dan diomongin yang enggak-enggak.
Saya kasih
spoilernya aja sedikit, ini bercerita tentang sepasang suami istri yang
sangat-sangat ideal dimata orang-orang, termasuk orang dikantornya, karena
selain cantik dan tampan, keduanya punya karir yang bagus dikantor, bisa
bekerja secara profesional meski berada di satu tim, dan suaminya sebagai
atasannya. Usia pernikahan mereka sudah 10 tahun, pernah hamil sang istri namun
kemudian bayinya meninggal, dan mereka harus berusaha melanjutkan kehidupan
pernikahan mereka tanpa kehadiran seorang anak. Namun dikemudian hari ternyata,sang
suami yang dikenal baik, hangat, dan perhatian oleh sang istri berselingkuh
dengan teman satu kantornya, bahkan satu tim pula dengan si perempuan tokoh
utama yang diperankan oleh Jang Nara.
Terlepas
apapun alasan suami berselingkuh, tetap saja itu kesalahan. Dan ternyata sang
suami yang begitu dicintai oleh istrinya menyimpan banyak rahasia yang tidak
pernah diketahui oleh sang istri, setelah perselingkuhan itu terbongkar kemudian
rahasia-rahasia sang suami dan masa lalunya akhirnya diketahui sang Istri.
Istrinya merasa kecewa, sakit hati, dan hancur mengetahui semuanya, dan tentu
akhir cerita, akhirnya suami istri ini tidak bisa lagi melanjutkan
kehidupan pernikahan mereka, sang istri
ingin menyudahi dan mengakhiri pernikahnnya, ia merasa tidak mengenal suaminya,
dan sang suami hanya bisa pasrah, ia tau sudah menyakiti hati istrinya, dan ia
menerima keputusan istrinya unuk berpisah, mereka berdua akhirnya bercerai.
Diakhir cerita,
sang suami mencetak film yang ada dikameranya, ia melihat hasil cetakan film
itu, isinya adalah foto-foto sang istri yang ia foto secara candid, ia pun
menangis, ia sadar istrinya benar-benar mencintainya dengan tulus, dan
sejatinya hati kecilnya tak mampu berbohong bahwa ia sangat mencintai istrinya
itu, itulah yang tak pernah ia temui saat ia bersama selingkuhannya, ia merasa
ada yang kosong. Akhirnya ia hanya bisa menyesali apa yang terjadi, ia tak
mampu menahan air matanya, ia menangis sambil memegang foto-foto istrinya
ditangan.
Sedih yah...
? iya saya juga sedih melihatnya. Tapi itulah yang namanya hidup, melihatnya
saja sudah menguras emosi dan air mata, apalagi kalau kita menjalaninya dalam
kehidupan nyata. Itulah yang terjadi pada salah satu sahabat terdekat saya
sekarang, tiba-tiba saja teringat ia tengah menghadapi masalah yang sama dengan
drama korea diatas, sedihnya bukan hanya berselingkuh, sahabat saya yang sudah
dikarunia satu orang putra ini juga harus mengalami kekerasan dari suaminya, ia
mengalami KDRT hingga beberapa kali menderita lebam diwajahnya, sedih memang.
Dan beberapa minggu kemarin saya mencoba menyapanya lewat pesan di whatssapp
“Gimana teh
sidangnya? Udah Beres ?
“Alhamdullilah
kemarin sidang putusan teh”
“Udah beres
berarti? diminta bukti-bukti gak ?”
“Beres
alhamdullilah, enggak Cuma ditanya saksi-saksi aja”
“Syukur atuh
beres, alhamdullilah”
“Alhamdullilah
teh plong, tinggal nata hidup lagi”
“Bismillah
aja teh tawakal sama Allah, Insya Allah dikasih ganti yang lebih baik, aamiin”
Begitulah...
tidak pernah ada yang baik-baik saja dari sebuah perpisahan. Apalagi perpisahan
sebuah rumah tangga. Menata hidup baru dengan status baru dalam masyarakat
patriarki dan majemuk yang masih kental memegang teguh adat istiadat, pasti
akan selalu ada cibiran akan status sosial seseorang, apalagi bagi perempuan
yang berstatus janda. Mereka lebih
banyak melihat sisi negatif dari perempuan-perempuan yang memang tidak baik,
tapi ketika seorang perempuan menyandang status sebagai janda, mereka bukanlah
makhluk yang hina. Jika memang statusnya hina, mungkin Rasullulah tidak akan
menikahi Siti Khadijah yang berstatus janda. Percayalah... masih banyak
perempuan-perempuan mulia yang kini hidup sendiri tanpa suami, karena suaminya
sudah meninggal atau sudah bercerai dengannya.
Wanita-wanita
mulia yang harus membanting tulang menghidupi dirinya sendiri, menghidupi orang
tuanya, dan menghidupi anak-anaknya tanpa suami. Mereka yang mungkin sering
dicibir oleh perempuan-perempuan lain karena dianggap membahayakan bisa merebut
suamiya sebagai pelakor, jauh-jauh sekali dari itu.... mereka masih memiliki Iman
dihatinya, merekalah yang mungkin lebih mulia dari diri kita yang hanya bisa
memandang sebelah mata, kita tidak pernah tau pengorbanan dan penderitaan yang
mereka alami sebelumnya. Semoga kelak Allah menjaga keluarga kita dari segala
bentuk keburukan dan fitnah dunia, semoga pasangan hidup kita, orang yang dapat
membersamai kita tidak hanya didunia, tapi juga hingga di Jannahnya, Aamiin.
Bandung, 20 Januari 2020

Tidak ada komentar:
Posting Komentar