Semoga kamu bisa sekuat orang
yang memakaimu setiap hari
terima kasih sudah banyak membantu
saya sejauh dan selama ini
saya berharap kamu sehat-sehat
selalu seperti saya
semoga kamu bisa membantu saya
menjemput setiap rizky yang Allah berikan kepada saya
aamiin.
Benda mati berwarna pink itu
diparkir didepan halaman sekolah, seketika saya kembali memutar memori saya
beberapa tahun kebelakang, jauh sebelum saya bekerja, saya hanya permepuan
biasa yang menggunakan angkot sebagai alat transportasi sehari-hari. SD dan SMP
kebetulan dekat lokasinya dari rumah, jadi saya biasa berjalan kaki, namun SMA
karena lokasinya agak jauh dari rumah, saya biasa menggunakan angkot pulang
pergi, hingga saya melanjutkan kuliah say di UPI yang lokasinya di jalan
Setibudhi, saya harus naik angkot 2 kali dari rumah, tak jarang jika lelah
seharian selesai kuliah dan aktivitas di kampus, saya bisa tertidur diangkot,
meski kadang-kadang bapak dengan senang hati menjemput saya pulang, tapi
seingat saya, ada masa-masa ketika kami sekeluarga tidak memiliki kendaraan
sama sekali.
Saya masih ingat, ketika kami
sekeluarga mengalami masa-masa sulit dalam keuangan, uang bapak sedikit demi
sedikit habis untuk membiayai pendidikan anak-anaknya, satu persatu harta
dijual, dari mulai perhiasa ibu, televisi, hingga motor, dan saya ingat ketika
itu bapak bahkan menggunakan sepeda untuk menjemput rizky dari Allah, sedih
rasanya jika diingat kembali pengorbanan beliau seprti apa. Tapi alhamdullilah
seluruh pengorbanan bapak juga ibu tidak ada yang sia-sia, kami berempat bisa
menyelesaikan pendidikan sarjana kami dari Perguruan Tinggi Negeri.
Hingga akhirnya saya mulai masuk
kedunia kerja dan mendapatkan penghasilan. Awal-awal bekerja saya pun masih
menjadi pengguna angkot sejati, pergi kemana pun saya pasti menggunakan angkot.
Dan setelah beberapa tahun bekerja, ditahun 2011 saya berani untuk mengambil
motor secara kredit, biarpun gaji saya masih belum besar, setidaknya dengan
adanya motor saya bisa menghemat ongkos buat pergi ke lokasi kerja, kebetula
dulu saya bekerja di daerah Jalan Katamso.
Motor yang saya beli adalah Honda
Beat berwarna pink, dan saya belajar bagaimana mengendarai motor pelan-pelan.
Saya beli motor matic karena lebih mudah dikendarai, ketimbang motor gigi. Dan
karena tuntutan pekerjaan, akhirnya setelah berlatih beberapa minggu saya mulai
berani menggunakan motor ini hingga ke jalan raya. Awal-awal kerja menggunakan
motor, saya didampingi sama bapak, dan alhamdullilah saya bisa menggunakan
motor ini dengan baik.
Namun kata orang salah satu
kendaraa yang resikonya cukup tinggi adalah motor, karena jika terjadi
kecelakaan pasti akan melukai langsung pengendaranya, jauh berbeda dengan
mobil. Dan sepertinya mobil lebih cocok jadi kendaraan untuk kaum perempuan
seperti saya hehehe... sayang, gaji saya belum ada 2 digit, rasanya belum mampu
untuk membeli mobil. Dengan motor saja saya sudah bahagia, dan sangat-sangat
terbantu, setidaknya saya tidak lagi merepotkan bapak untuk mengantar saya ke
tempat kerja.
Dan qadarullah satu waktu saya
pun mengalami kecelakaan cukup parah, waktu itu saat hendak pergi untuk
memberikan les privat ke daerah gerlong, ketika keluar dari gang tiba-tiba saja
dari arah berlawanan ada seorang pemuda tanggung yang mengendari motor dengan
kecepatan sangat tinggi, dan langsung menghantam motor saya, saya jatuh, dan
motor pemuda itu terseret beberapa meter, kaca motor bagian spidometer pecah,
bagain depan motor saya juga bengkok, kaca spion juga pecah, dan kaki saya
mengalami keretakan dibagian dalam. Singkat cerita pemuda tanggung itu mengakui
kesalahannya, walau secara tindak pidana, harusnya kena pasal berlapis. Pertama
tidak menggunakan helm, kedua tidak membawa sim dan stnk, ketika membawa motor
dengan kecepatan tinggi, dan yang keempat dia mencelakakan orang lain. Telebih
keluarga pemuda ini keluarga yang sederhana, akhirnya semua selesai dengan cara
kekeluargaan.
Kasian sekali motor saya ini, dan
ternyata ini bukan kali pertama ia mengalami kecelakaan, beberapa tahun
setelahnya, dia kembali ditabrak oleh sebuah mobil fortuner dari belakang,
padahal posisinya sedang diam dilampu merah, saya hanya mengalami memar saat
itu, motor saya pun hanya terjatuh dan tidak sampai parah, meski memar saya
akhirnya tetap pulang kerumah sendirian, padahal tadinya saya berniat
menghadiri acara walimahan sahabat saya dikantor. Alhamdullilah ada mas-mas
yang mau nolongin sayy, dia mengikuti saya sampai rumah, takut terjadi apa-apa
dengan saya, dan sedihnya pada saat itu kedua orang tua saya sedang diluar
kota. Saya mengobati diri saya sendiri.
Entahlah... sejak mengalami
kecelakaan itu spidometer motor saya jadi rusak, jadi alat penunjuk kecepatan
dan volume bensin tidak berfungsi dengan baik, pernah satu kali benar-benar
mogok karena kehabisan bensin, tapi alhamdullilah ditolong juga sama mas-mas didorong
sampai ke pom bensin. Itulah beberapa kenangan dengan motor saya, mungkin
umurnya sekarang sudah 9 tahun, dan 9 tahun juga dia menemani saya keliling
bandung mengais rezeky, dari Cimahi sampai MTC di Soekarno Hatta, dia meski
benda mati baik sekali dan jarang rewel, kalau pun gak bisa di stater, itu
karena akinya yang habis dan harus ganti.
Pernah satu waktu kakak laki-laki
saya bilang
“udah de ganti aja motornya, beli
lagi yang baru, yang itu jual aja”
Tapi saya tidak mau, saya sayangs
sekali dengan motor saya, sekarang pun saat saya bekerja dia masih menunggu
saya dihalaman parkir hehehehe....
Semoga motor saya kuat, sekuat yang
punya, masalahnya.... lokasi kerja saya sekarang cukup jauh dengan jalan yang
cukup terjal dan curam wkwkwkkwkw, saya selalu berdoa semoga dia kuat-kuat
diajak nanjak atau turun kebawah, sedih kadang kasihan sama motor ini, tapi
saya yakin dia pasti bisa.
Bandung, 24 Mei 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar