Kamis, 23 Mei 2019

Kepada Motor



Semoga kamu bisa sekuat orang yang memakaimu setiap hari
terima kasih sudah banyak membantu saya sejauh dan selama ini
saya berharap kamu sehat-sehat selalu seperti saya
semoga kamu bisa membantu saya menjemput setiap rizky yang Allah berikan kepada saya
aamiin.

Benda mati berwarna pink itu diparkir didepan halaman sekolah, seketika saya kembali memutar memori saya beberapa tahun kebelakang, jauh sebelum saya bekerja, saya hanya permepuan biasa yang menggunakan angkot sebagai alat transportasi sehari-hari. SD dan SMP kebetulan dekat lokasinya dari rumah, jadi saya biasa berjalan kaki, namun SMA karena lokasinya agak jauh dari rumah, saya biasa menggunakan angkot pulang pergi, hingga saya melanjutkan kuliah say di UPI yang lokasinya di jalan Setibudhi, saya harus naik angkot 2 kali dari rumah, tak jarang jika lelah seharian selesai kuliah dan aktivitas di kampus, saya bisa tertidur diangkot, meski kadang-kadang bapak dengan senang hati menjemput saya pulang, tapi seingat saya, ada masa-masa ketika kami sekeluarga tidak memiliki kendaraan sama sekali.

Saya masih ingat, ketika kami sekeluarga mengalami masa-masa sulit dalam keuangan, uang bapak sedikit demi sedikit habis untuk membiayai pendidikan anak-anaknya, satu persatu harta dijual, dari mulai perhiasa ibu, televisi, hingga motor, dan saya ingat ketika itu bapak bahkan menggunakan sepeda untuk menjemput rizky dari Allah, sedih rasanya jika diingat kembali pengorbanan beliau seprti apa. Tapi alhamdullilah seluruh pengorbanan bapak juga ibu tidak ada yang sia-sia, kami berempat bisa menyelesaikan pendidikan sarjana kami dari Perguruan Tinggi Negeri.

Hingga akhirnya saya mulai masuk kedunia kerja dan mendapatkan penghasilan. Awal-awal bekerja saya pun masih menjadi pengguna angkot sejati, pergi kemana pun saya pasti menggunakan angkot. Dan setelah beberapa tahun bekerja, ditahun 2011 saya berani untuk mengambil motor secara kredit, biarpun gaji saya masih belum besar, setidaknya dengan adanya motor saya bisa menghemat ongkos buat pergi ke lokasi kerja, kebetula dulu saya bekerja di daerah Jalan Katamso.

Motor yang saya beli adalah Honda Beat berwarna pink, dan saya belajar bagaimana mengendarai motor pelan-pelan. Saya beli motor matic karena lebih mudah dikendarai, ketimbang motor gigi. Dan karena tuntutan pekerjaan, akhirnya setelah berlatih beberapa minggu saya mulai berani menggunakan motor ini hingga ke jalan raya. Awal-awal kerja menggunakan motor, saya didampingi sama bapak, dan alhamdullilah saya bisa menggunakan motor ini dengan baik.

Namun kata orang salah satu kendaraa yang resikonya cukup tinggi adalah motor, karena jika terjadi kecelakaan pasti akan melukai langsung pengendaranya, jauh berbeda dengan mobil. Dan sepertinya mobil lebih cocok jadi kendaraan untuk kaum perempuan seperti saya hehehe... sayang, gaji saya belum ada 2 digit, rasanya belum mampu untuk membeli mobil. Dengan motor saja saya sudah bahagia, dan sangat-sangat terbantu, setidaknya saya tidak lagi merepotkan bapak untuk mengantar saya ke tempat kerja.

Dan qadarullah satu waktu saya pun mengalami kecelakaan cukup parah, waktu itu saat hendak pergi untuk memberikan les privat ke daerah gerlong, ketika keluar dari gang tiba-tiba saja dari arah berlawanan ada seorang pemuda tanggung yang mengendari motor dengan kecepatan sangat tinggi, dan langsung menghantam motor saya, saya jatuh, dan motor pemuda itu terseret beberapa meter, kaca motor bagian spidometer pecah, bagain depan motor saya juga bengkok, kaca spion juga pecah, dan kaki saya mengalami keretakan dibagian dalam. Singkat cerita pemuda tanggung itu mengakui kesalahannya, walau secara tindak pidana, harusnya kena pasal berlapis. Pertama tidak menggunakan helm, kedua tidak membawa sim dan stnk, ketika membawa motor dengan kecepatan tinggi, dan yang keempat dia mencelakakan orang lain. Telebih keluarga pemuda ini keluarga yang sederhana, akhirnya semua selesai dengan cara kekeluargaan.

Kasian sekali motor saya ini, dan ternyata ini bukan kali pertama ia mengalami kecelakaan, beberapa tahun setelahnya, dia kembali ditabrak oleh sebuah mobil fortuner dari belakang, padahal posisinya sedang diam dilampu merah, saya hanya mengalami memar saat itu, motor saya pun hanya terjatuh dan tidak sampai parah, meski memar saya akhirnya tetap pulang kerumah sendirian, padahal tadinya saya berniat menghadiri acara walimahan sahabat saya dikantor. Alhamdullilah ada mas-mas yang mau nolongin sayy, dia mengikuti saya sampai rumah, takut terjadi apa-apa dengan saya, dan sedihnya pada saat itu kedua orang tua saya sedang diluar kota. Saya mengobati diri saya sendiri.

Entahlah... sejak mengalami kecelakaan itu spidometer motor saya jadi rusak, jadi alat penunjuk kecepatan dan volume bensin tidak berfungsi dengan baik, pernah satu kali benar-benar mogok karena kehabisan bensin, tapi alhamdullilah ditolong juga sama mas-mas didorong sampai ke pom bensin. Itulah beberapa kenangan dengan motor saya, mungkin umurnya sekarang sudah 9 tahun, dan 9 tahun juga dia menemani saya keliling bandung mengais rezeky, dari Cimahi sampai MTC di Soekarno Hatta, dia meski benda mati baik sekali dan jarang rewel, kalau pun gak bisa di stater, itu karena akinya yang habis dan harus ganti.

Pernah satu waktu kakak laki-laki saya bilang
“udah de ganti aja motornya, beli lagi yang baru, yang itu jual aja”

Tapi saya tidak mau, saya sayangs sekali dengan motor saya, sekarang pun saat saya bekerja dia masih menunggu saya dihalaman parkir hehehehe....
Semoga motor saya kuat, sekuat yang punya, masalahnya.... lokasi kerja saya sekarang cukup jauh dengan jalan yang cukup terjal dan curam wkwkwkkwkw, saya selalu berdoa semoga dia kuat-kuat diajak nanjak atau turun kebawah, sedih kadang kasihan sama motor ini, tapi saya yakin dia pasti bisa.

Bandung, 24 Mei 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar