Alkisah disuatu kerajaan di
Negeri Ginseng, hiduplah seorang putra Raja, pangeran ke 8 dari Selir Raja yang
kesekian. Pangeran yang tampan, cerdas, dan baik hati. Ia memiliki seorang
istri yang sangat cantik dan juga baik, pernikahan pangeran dan putri ini
memang bukan pernikahan yang dilandasi rasa cinta, melainkan pernikahan
politik, bukan karena pangeran menyukai putrinya, putri memang sangat mengagumi
pangeran, dan mencintai pangeran, tapi pangeran menerima pernikahan lebih
karena kepatuhannya pada titah Raja, jadi tanpa rasa cinta akhirnya pangeran
menikah dengan putri itu.
Singkat cerita beberapa tahun kemudian datanglah saudara jauh
sang putri yang ikut mengabdi di kerajaan. Saudara perempuan putri itu bernama
Hae Soo, Hae Soo adalah gadis muda yang cantik, baik hati dan ceria.
Kehadiranya membawa kehangatan di kerajaan, termasuk sang pangeran yang
ternyata merasa kagum dan simpati terhadap Hae Soo.
Pangeran dan Putri memang sudah
menikah cukup lama, namun belum juga dikaruniai keturunan, meliahat perlakuan
sang suami yang begitu baik dan simpati terhadap Hae Soo, sang putri yang juga
sedang menderita sakit keras akhirnya berkata kepada sang pangeran
“Suamiku... kita sudah lama
menikah, tapi belum juga diberikan keturunan, padahal harus ada seseorang yang
mewarisi takhta dan melanjutkan generasi dari keluarga kita, lagipula kondisi
ku saat ini seperti ini, lebih baik kau ceraikan saja aku, dan kau menikahi Hae
Soo saudaraku, dia gadis yang saangat baik, dan mungkin yang paling tepat untuk
mendampingimu, umurku tidak akan lama lagi didunia”
Mendengar perkataan istrinya itu
sang pangeran sedih, dan dia tidak memperdulikan apa yang disampaikan oleh
istrinya itu, pangeran berkata
“Sudahlah kamu jangan berfikir
yang tidak-tidak, kamu akan sembuh, percayalah, aku tidak akan meninggalkanmu
dengan kondisi seperti ini”
Beberapa hari selanjutnya keadaan
sang putri semakin menurun, sang pangeran dengan penuh kesabaran mendampingi
sang putri, hingga ketika bersama sang pangeran, sang putri menghembuskan
nafasnya yang terakhir. Sang Pangeran
merasa begitu kehilangan istrinya, ia tau istrinya begitu setia dan begitu
mencintainya, sayangnya satu hal yang begitu disesali pangeran, pangeran belum
pernah mengatakan bahwa ia mencintai istrinya itu, karena meski pernikahan
begitu lama, sejatinya sang pangeran tidak pernah benar-benar mencintai
Istrinya itu.
Pangeran memang mencintai Hae
Soo, tapi tidak serta merta menikahinya setelah kepergian istrinya, dan
ternyata meskipun Hae Soo juga mencintai
sang pangeran, akhir cerita mereka tdak menikah, dan menjalani kehidupannya
masing-masing.
Sedih yah? Haha itu memang cerita
dalam sebuah drama korea yang berlatar kerajaan, cerita utamnya memang bukan
tentang kisah cinta tapi tentang perebutan takhta, tapi entah kenapa saya begitu
terkesan dengan tokoh pangeran ini, pangeran yang baik hati ini walau tidak
mencintai istrinya, tapi tetap mejalani kehidupan sebagai suami istri selama
bertahun-tahun, tanpa pernah menyakiti hati istrinya, memperlakukannya dengan
baik, dan mampu menahan dirinya untuk tidak menikahi wanita lain yang ia cintai
selain istrinya. Laki-laki langka memang, jarang ada yang seperti ini, padahal
tentu saja sang pangeran ini bukan seorang muslim, yang tidak pernah membaca AL
Quran dan As Sunah sebagai tuntunan hidupnya.
Sang pangeran benar-benar
mengamalkan nasihat Rasullulah
Dari Abu Hurairah, Rasullulah
bersabda:
“Berbuat baiklah kepada wanita
karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya
tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Maka sikapilah para
wanita dengan baik” (HR Al Bukhari)
Susah memang cari laki-laki yang
sholeh sekarang, beberapa teman dan murid tak jarang meluapkan emosinya jika
tiba-tiba putus sama pacar, atau tiba-tiba gak jadi nikah gara-gara laki-laki
yang akan jadi calon suaminya malah selingkuh sama perempuan lain, mereka yang
tersakiti dan hampir depresi akan bilang “Suami laki-laki sama, kalau enggak
Homo yang Berengsek”, kasian mereka padahal didunia yang kejam kaya sekarang
masih ada laki-laki sholeh yang taat dan patuh sama Rabbnya. Laki-laki soleh
itu langka, saking langkanya hanya sedikit perempuan beruntung yang
mendapatkannya, karena baik saja tidak cukup, seenggaknya dia juga harus ngerti
agama, saya selalu ingat pesan tentang laki-laki seperti ini
“Pilihlah suami yang baik
agamanya, jika cinta ia akan memuliakanmu, dan jika marah ia tidak akan
menghinamu”
Yah setidaknya laki-laki itu mau
bertanggung jawab untuk diri kamu, bukan hanya tentang dirinya dan keluarganya,
tapi dia mau bertanggung jawab untuk setiap air mata dan senyum yang ada
diwajah kamu, sabar saja... kalau tidak sekarang bertemu, mungkin besok akan
dipertemukan. Kalau tidak diunia, mungkin di Surga, aamiin.
Bandung, 28 November 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar