“Seseorang begitu keras, mungkin
karena dimasa lalu hidup begitu keras terhadapnya. Hidup yang memahat
kepribadiannya, memahat sifatnya. Kalau suatu hari kita mendapati sifatnya
seolah menyakiti kita, mungkin kita belum pernah merasakan betapa sakitnya ia
ketika menghadapi kerasnya hidup ini kepadanya. Tentang keluarganya yang
mungkin tak sehangat dan seutuh yang kita miliki. Tentang ekonomi yang mungkin
tak selapang kita, sehingga untuk sekolah, makan, dan segala bentuk hal-hal
yang mudah kita miliki, ia harus berjuang lebih. Mungkin, dengan berfikir
seperti ini. Kita lebih mudah menyalakan empati. Kadang, di hidup kita sibuk
memikirkan diri, kenyamanan, penghormatan, dan harga diri. Lupa kalau-kalau
kita tidak membutuhkan itu dari orang lain. Bagaimanapun sikap dan sifat orang
lain kepada kita, kita tetaplah utuh” Kurniawan Gunadi.
Sudah sejak lama saya mengikuti
dan membaca tulisan-tulisan mas gun, dia yang saya kenal dari media tumblr
banyak memberikan pencerahan dalam fikiran saya, terutama bagaimana cara
mengelola hati dan perasaan, walau tidak berlatar belakang pendidikan agama,
anak FSRD ITB ini bisa begitu fasih berbicara melalui tulisan-tulisannya,
pemahaman hidup yang baik, dan cara pandang yang baik tentang kehidupan banyak
menjawab keresahan-keresahan para generasi milineal di sosial media. Baiklah
saya tidak akan membahas tentang mas gun, saya akan fokus dengan tulisan yang
ditulis mas gun diatas, itu adalah caption yang beliau tulis di Instagramnya.
Saya mungkin bisa dibilang
sebagai korban, korban dari ketidakmampuan seseorang mengelola dirinya, korban
dari kepribadian keras yang tidak disadari. Saya merasa saya sudah berusaha
untuk berbuat dan bersifat sebaik mungkin, tapi nyatanya apa yang saya lakukan
selalu salah dimatanya, sehingga tidak ada sedikitpun kebaikan dari diri saya
yang dapat meluluhkan hatinya. Saya berusaha mengambil sebanyak-banyak hikmah
dan pelajaran dari kejadiaan yang saya alami.
Saya ingin anak dan keturunan
saya bisa hidup lebih baik dari saya, saya tidak ingin menurunkan generasi yang
lemah, lemah mentalnya juga agamanya. Ketidakmampuan seseorang menjaga dirinya
dari sifat-sifat keras dan kasar jangan sampai berdampak buruk bagi kehidupan
orang lain. Jangan karena seseorang tidak mampu mengelola emosi, maka orang
lain yang jadi korban, jangan sampai amarah dan emosi kita dilampiaskan kepada
orang terdekat kita yang tidak bersalah. Saya sadar tidak ada manusia normal
yang suka menyakiti orang lain, dan merasa tidak bersalah sama sekali. Tapi
saya ingin sekali berbica bahwa apa yang sempat keluar dari mulutnya
benar-benar membuat hati saya sakit dan hancur.
Saya telah melalui hari-hari yang
keras dan berat dalam hidup, hari-hari dimana saya merasa begitu tertekan
karena ucapan dan bentakan seseorang, hari-hari berikutnya yang jauh lebih
berat karena saya berada dalam status baru yang benar-benar tidak saya
inginkan. Dan ketika saya menjadi korban disakiti dan diperlakukan tidak baik,
mudah-mudahan tidak membuat saya trauma, dan menjadi lemah. Bukankah ada banyak
orang jahat yang awalnya baik? Ia orang baik yang diperlakukan tidak baik dan
berubah menjadi jahat. Saya tidak mau itu terjadi pada diri saya. Saya ingin
tetap jadi orang baik, tidak peduli orang berkata apa tentang saya, saya sudah
berusaha memperlebar batas kesabaran saya sebagai manusia, saya pun sudah
berusaha melapangkan hati, berdamai dengan diri sendiri dengan segala takdir
yang Allah tetapkan atas diri saya. Semoga kelak saya bisa lagi merasa bahagia.
Bandung, 14 November 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar