Selasa, 13 November 2018

Hard


“Seseorang begitu keras, mungkin karena dimasa lalu hidup begitu keras terhadapnya. Hidup yang memahat kepribadiannya, memahat sifatnya. Kalau suatu hari kita mendapati sifatnya seolah menyakiti kita, mungkin kita belum pernah merasakan betapa sakitnya ia ketika menghadapi kerasnya hidup ini kepadanya. Tentang keluarganya yang mungkin tak sehangat dan seutuh yang kita miliki. Tentang ekonomi yang mungkin tak selapang kita, sehingga untuk sekolah, makan, dan segala bentuk hal-hal yang mudah kita miliki, ia harus berjuang lebih. Mungkin, dengan berfikir seperti ini. Kita lebih mudah menyalakan empati. Kadang, di hidup kita sibuk memikirkan diri, kenyamanan, penghormatan, dan harga diri. Lupa kalau-kalau kita tidak membutuhkan itu dari orang lain. Bagaimanapun sikap dan sifat orang lain kepada kita, kita tetaplah utuh”  Kurniawan Gunadi.

Sudah sejak lama saya mengikuti dan membaca tulisan-tulisan mas gun, dia yang saya kenal dari media tumblr banyak memberikan pencerahan dalam fikiran saya, terutama bagaimana cara mengelola hati dan perasaan, walau tidak berlatar belakang pendidikan agama, anak FSRD ITB ini bisa begitu fasih berbicara melalui tulisan-tulisannya, pemahaman hidup yang baik, dan cara pandang yang baik tentang kehidupan banyak menjawab keresahan-keresahan para generasi milineal di sosial media. Baiklah saya tidak akan membahas tentang mas gun, saya akan fokus dengan tulisan yang ditulis mas gun diatas, itu adalah caption yang beliau tulis di Instagramnya.

Saya mungkin bisa dibilang sebagai korban, korban dari ketidakmampuan seseorang mengelola dirinya, korban dari kepribadian keras yang tidak disadari. Saya merasa saya sudah berusaha untuk berbuat dan bersifat sebaik mungkin, tapi nyatanya apa yang saya lakukan selalu salah dimatanya, sehingga tidak ada sedikitpun kebaikan dari diri saya yang dapat meluluhkan hatinya. Saya berusaha mengambil sebanyak-banyak hikmah dan pelajaran dari kejadiaan yang saya alami.

Saya ingin anak dan keturunan saya bisa hidup lebih baik dari saya, saya tidak ingin menurunkan generasi yang lemah, lemah mentalnya juga agamanya. Ketidakmampuan seseorang menjaga dirinya dari sifat-sifat keras dan kasar jangan sampai berdampak buruk bagi kehidupan orang lain. Jangan karena seseorang tidak mampu mengelola emosi, maka orang lain yang jadi korban, jangan sampai amarah dan emosi kita dilampiaskan kepada orang terdekat kita yang tidak bersalah. Saya sadar tidak ada manusia normal yang suka menyakiti orang lain, dan merasa tidak bersalah sama sekali. Tapi saya ingin sekali berbica bahwa apa yang sempat keluar dari mulutnya benar-benar membuat hati saya sakit dan hancur.

Saya telah melalui hari-hari yang keras dan berat dalam hidup, hari-hari dimana saya merasa begitu tertekan karena ucapan dan bentakan seseorang, hari-hari berikutnya yang jauh lebih berat karena saya berada dalam status baru yang benar-benar tidak saya inginkan. Dan ketika saya menjadi korban disakiti dan diperlakukan tidak baik, mudah-mudahan tidak membuat saya trauma, dan menjadi lemah. Bukankah ada banyak orang jahat yang awalnya baik? Ia orang baik yang diperlakukan tidak baik dan berubah menjadi jahat. Saya tidak mau itu terjadi pada diri saya. Saya ingin tetap jadi orang baik, tidak peduli orang berkata apa tentang saya, saya sudah berusaha memperlebar batas kesabaran saya sebagai manusia, saya pun sudah berusaha melapangkan hati, berdamai dengan diri sendiri dengan segala takdir yang Allah tetapkan atas diri saya. Semoga kelak saya bisa lagi merasa bahagia.

Bandung, 14 November 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar