Minggu, 12 Februari 2017

Jangan Menangis Istriku


"Ujian datang bukan untuk menguji seberapa kuat dirimu, tapi menguji seberapa besar keyakinanmu kepada Tuhan. Sehingga kamu berserah diri, berdoa begitu tulus, dan tidak mengharap apapun selain keridhaaNya" Kurniawan Gunadi.

Istriku, sekarang tarik lagi nafasmu sejenak duduklah dengan santai tanpa perasaan bimbang, takut, dan ragu-ragu, serta dengarkanlah nasihat suamimu ini.

Istriku ingatlah, berapa hari yang telah kita lalui bersama, semuanya berlalu dengan tidak sia-sia. Saat sennag kita tetap bersama, kala susah kita tetap berusaha tersenyum menerima QadhaNya. Ingatlah, tidak selamanya kita akan merasakan kelapangan hidup. Kemarin kita telah merasakan kelapangan hidup. kemarin kita telah merasakan kelapangan itu, kebahagiaan itu, kecukupan itu, dan kesentosaan itu. Sekarang mungkin saja saatnya bagi kita untuk menerima giliran perputaran roda kehidupam. Bersabarlah atas perputaran roda kehidupan itu, karena yakinlah, kebahagiaan itu akan kembali lagi pada kehidupan kita, kesenangan itu akan kembali datang menghiasi halaman rumah kita, dan kemesraan itu akan kembali hadir ditengah-tengah kehangatan keluarga.

Mendekatlah kemari, wahai istriku tercinta!
Biarkan suamimu menyeka air mata itu. Air mata itu telah membuat bola matamu bengkak, air mata itu telah membuat lekung pipimu merona merah, dan dia telah mempercepat datangnya rasa lemah dan kecil hati pada dirimu. Dia makin mempersulit setiap masalah yang kau hadapi, dan dia sedikit pun tidak bermanfaat bagimu.

Istriku, dengarkanlah!
Kalau hidup ini untuk ditangisi dan setiap manusia yang menangisinya akan memperoleh banyak manfaat darinya, tentulah baginda Rasullulah adalah orang yang paling banyak menangisi kehidupannya. Akan tetapi tangisan tidak akan membawa banyak kebaikan kepadamu, dia justru akan memperkeruh telaga akal sehatmu. Kesedihan tidak akan mengakhiri setiap masalah yang kau hadapi, justru akan memperpanjang dan memperumitnya. Oleh karena itu baginda Rasullulah bukanlah orang yang suka menangisi kehidupan ini, padahal berapa banyak penderitaan umat yang menjadi tanggungannya.

Jangan  menangisi hidup karena kesempitan duniamu, karena ada akhirat yang jauh lebih indah daripada kehidupan dunia seluruhnya. Jangan terpedaya dengan oleh gemerlapnya kehidupan dunia, lantas engkau menangisi karena tidak memperoleh gemerlapnya, karena kehidupan dunia ini akan berakhir secepat waktu dimulainya. Semuanya akan berakhir dengan begitu saja, hanya dengan satu tiupan, siap tdiak siap, mau tidak mau, atau rela tidak rela.

Jangan menangis karena kehidupan duniamu yang berat, karena Allah telah menjanjikan akhirat bagimu, ada surga untukmu dan keceriaan para penghuni didalamnya, serta tidak berlaku lagi segala bentuk kesedihan disana. Kalau dunia ini sempit bagimu, akhirat akan teramat luas.

Istriku, dengan air mata dan kesedihanmu, setiap tempat akan menjadi neraka bagimu, setiap suara akn menjadi halilintar bagimu, suara gemericik air yang indah terdengar laksana tsunami bagimu, dan kicauan burung ditelingamu terdengar seperti tembakan meriam. Itu semua karena air mata dna kesedihan yang berlarut-larut telah memperdaya akal sehatmu, telah merusak cara berfikirmu yang jernih, dan telah mematikan semangat hidupmu.

Kepada semua suami yang memiliki istri, terutama mereka yang menikah diusia muda, yang hampir-hampir mulianya berumah tangga kandas ditengah jalan tanpa kejelasan, bersabarlah, luruskan kembali barisan kalian, buang jauh-juah kata-kata cerai dari mulut kalian. Rekatkan kembali niat yang pudar, kumpulkan kembali puing cinta yang berserakan. Segeralah, baik dengan ringan maupun dengan berat hati, kubur keegoisan masing-maisng dalam tanah yang gelap. Mulailah tersenyum, berusahalah, walaupun berat untuk memulainya, hentikan tangisan, hentikan kesedihan, dan jangan saling menyalahkan.

Jangan Menangis Istriku,
Tanzil Tanzania

Tidak ada komentar:

Posting Komentar