Menikahlah Nak, manakala dirimu sudah benar-benar siap. Siap
disini bukan hanya faktor usia, pendidikan, dan finansial. Tapi benar-benar
menerima orang lain untuk menjadi bagian dari diri kita. Seperti daging dengan
darah.
Ilmu mengenal diri harus benar-benar diamalkan. Kalau kita seorang pencemburu, posesif, dengan mengagungkan privasi, jangan menikah dengan aktifis popular dan relawan yang murah hati, lapang segala. Jika kita seseorang yang mau benar sendiri tak mau dibantah, jangan bermimpi punya pasangan cerdas, dna sehat yang pastinya kritis.
Banyak orang sesumbar ingin punya pasangan shalih/shalihah,
cerdas, sehat, kaya, pemurah, dari keluarga “Intelek” dsb. Dsb. Lalu setelah
menikah stress sendiri karena tak mampu mengimbangi gaya hidup orang “Intelek”
karena masih suka sembarangan.
Jadi ya mari mengukur dan memantaskan diri. Pernikahan bukan
“Kamar Sakti” yang membuat orang berubah.
Jadi jangan bermimpi setelah
menikah bisa merubah pasangan. Yang paling bbisa kita lakukan hanya penyesuaian,
pemaafan, dan pengikhlasan yang tiada akhir.
Karena nenek moyang kita dari jaman baheula, sudah
berulang-ulang mengingatkan, bahwa cinta adalah pengorbanan. Terdengar klise,
Namun sangat benar adanya.
Bunda Tatty Elmir
(Founder Forum Indonesia Muda, ASA Indonesia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar