Ini tentang perjalanan naik gunung, satu dari banyak keinginan saya yang belum terealisasi, dan berharap suatu hari nanti bisa saya lakukan, menaiki gunung yang tingginya diatas 3000 mdpl, aamiin
Entahlah ini suatu yang berlebihan atau tidak, yang jelas setiap murid saya, adik kelas, atau bahkan teman saya pada naik gunung, apalagi pake pamer di sosial media kaya Instagram dan Phat -__-, saya tidak bisa menutupi kekepoan dan kemupengan saya, yang sebenarnya sangat ingin juga naik gunung, namun sebelum membahas lebih jauh tentang gunung, apa, kenapa, bagaimana, sepertinya saya harus jelaskan dulu satu-satu.
Apa? apa itu gunung? saya mencoba mencari diwikipedia
Gunung adalah sebuah bentuk tanah yang menonjol di atas wilayah sekitarnya. Sebuah gunung biasanya lebih tinggi dan curam dari sebuah bukit, tetapi ada kesamaaan, dan penggunaan sering tergantung dari adat lokal. Beberapa otoritas mendefinisikan gunung dengan puncak lebih dari besaran tertentu; misalnya, Encyclopædia Britannica membutuhkan ketinggian 2000 kaki (610 m) agar bisa didefinisikan sebagai gunung.
Kenapa Gunung?
Yah alasan simplenya gunung itu Indah, dia adalah filosofi kehidupan yang paling dekat dengan kita, bagaimana keindahan dan kebahagiaan harus diuji, dengan kesabaran, pengorbanan, dan rasa lelah. Sesuatu yang berharga dalam hidup yang layak diperjuangkan memang mahal, tak semua orang mampu mendapatkannya, dan hanya orang-orang bernyali besar yang punya kekuatan Fisik dan Iman yang akan sanggup mendapatkan itu, persis seperti perjuangan mendaki gunung.
Saya diumur yang sudah lebih dari seperempat abad ini jujur belom pernah naik gunung, satu-satunya gunung yang pernah saya naiki hanya satu, Gunung Tangkuban Perahu, itu pun dalam keadaan setengah sadar, karena pada saat di puncak gunung saya pingsan, akibat kelelahan dan kondisi fisik yang sedang tidak fit, jangan ketawa, gunung tangkuban perahu memang bukan gunung tinggi tapi perjalanan saya waktu itu saat kelas 1 SMA bersama teman-teman di Rohis memang cukup jauh, kami berjalan dari Jayagiri, menyusuri hutan pinus, dan sempat tersesat didalam hutan, karena arahan yang tidak jelas dari kakak kelas dan alumni yang juga ikut acara Rihlah itu, singkat cerita kami tersasar, dan satu-satunya jalan menuju pulang adalah dengan melewati tebing-tebing curam, ditengah kabut dan hujan gerimis, saya sendiri tidak bisa membayangkan kejadian itu bisa terjadi.
Naik Gunung bukan pekerjaan mudah kawan, dan saya sadar itu, apalagi saya ini adalah anak perempuan, yang terikat hukum syara, tidak boleh pergi sehari semalam tanpa didampingi mahram, alasan bahaya, binatang buas dan lain sebagainya, membuat orang tua saya tidak pernah mengizinkan anak-anaknya untuk naik gunung, bagi mereka naim gunung itu adalah pekerjaan kurang kerjaan yang dapat mengancam keselamatan jiwa -__-
Naik Gunung, terlalu mainstream untuk laki-laki, tapi perempuan? memang sekarang sudah banyak perempuan-perempuan yang kuat naik gunung ribuan meter kaya gitu, bahkan akhwat sekalipun yang kerdungnya super panjang, mereka bisa naik gunung menggunakan rok dan membawa tas carrier yang beratnya mungkin setengah dari berat badan mereka, maka bisa dipastikan mereka adalah perempuan-perempuan tangguh yang punya fisik dan mental kuat.
Untuk perempuan yang terbiasa hidup bersih, mandi sehari 2 kali, tidur di kasur spring bed dengan separangkat bad cover bantal dan guling, toliet super bersih yang nyaman dan harum, rasa-rasanya naik gunung bukanlah ide yang bagus. Saya? yang terbiasa hidup bersih, mungkin sekali waktu harus mencoba, untuk tidak mandi beberapa hari jika ingin naik gunung.
Bagaimana?
Kalau ditanya bagaimana caranya naik gunung, jawabannya simple saja, tinggal jalan kemudian naik. Tapi kita tidak akan pernah bisa pergi naik gunung sendirian, kita butuh tim, yang bisa saling mendukung satu sama lain selama dalam perjalanan, maka kita butuh pemimpin yang akan memimpin kita menaiki gunung, yang tahu bagaimana medan perjalanan, serta memiliki keahlian survivor dihutan.
beberapa adik kelas, teman, dan murid pernah ada yang mengajak saya untuk naik ke gunung, mulai dari gunung cikurai, gunung semeru, dan gunung merbabu, dan jawaban saya waktu itu tentu saja sangat-sangat diplomatis, mungkin next time kita usaha lagi.
Hingga seorang kakak kelas saya pernah bertanya tentang alasan saya untuk tidak ikut dengannya mendaki gunung semeru dengan kawan-kawan kuliahnya dulu, jawaban saya simple juga, tidak diizinkan oleh orang tua, mungkin nanti saja kalo sudah ada mahramnya, saya baru akan naik gunung. Jawaban diplomatis yang saya miliki akhirnya membuat dia hanya tersenyum, yah mudah-mudahan suatu saat nanti saya diberi kesempatan untuk naik gunung dengan seseorang yang menjadi mahram saya, sehingga saya tidak perlu lagi meminta izin kepada kedua orang tua saya, aamiin
Kalau ditanya mau mendaki gunung apa?
Maka saya akan memilih Puncak Mahameru untuk saya taklukan, aamiin
Bandung, 4 Agustus 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar