Karena takdir takan pernah salah memilih.
Kamu pasti ingat kisah ini,
sebuah dongeng klasik yang berkali-kali diangkat ceritanya ke layar lebar
dengan berbagai versi, termasuk versi Indonesianya zaman dulu. Cinderella,
gadis malang yang sebatang kara harus hidup dengan seorang Ibu tiri, dan kedua orang
saudara tirinya, yang diperlakukan secara kasar, harus melakukan segala
pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh seorang pembantu rumah tangga. Padahal
sebenarnya jika dilihat-lihat, ia bukanlah orang benar-benar miskin. Ini
dongeng klasik, karena pada akhirnya gadis cantik yang baik hati dan penyabar
ini dipertemukan dengan seorang Pangeran Tampan nan baik hati dari sebuah
kerajaan, yang akhirnya dinikahi oleh pangeran dan hidup bahagia selamanya di
Istana.
Dan entah kenapa setiap perempuan
pasti suka kisah ini, apa yang disukai?
1. Menjadi
Cantik
Dikisahkan
Cinderella ini adalah gadis sederhana yang berpenampilan ala kadarnya dan apa
adanya, tanpa kosmetik, tanpa pakaian-pakaian bagus dan mahal, tanpa sepatu dan
aksesoris apapun yang melekat ditubuhnya, namun dengan peri baik hati ia
merubah Cinderellan menjadi seorang putri yang cantik yang mengenakan gaun
terbaik, dengan perhiasan, dan sepatu kaca yang menawan, pasti itu impian semua
perempuan.
2. Bertemu
dengan Pangeran Tampan
Ah, sepertinya
bukan hanya Cinderella yang ingin bertemu Pangeran Tampan nan baik hati, yang
lahir dari keluarga terpandang dan kaya raya. Setiap perempuan pasti ingin bisa
bertemu dengan pangeran seperti itu, meski mungkin saat ini tidak ada pangeran
yang mengendarai kuda putih seperti di cerita dongeng tersebut.
3. Bertemu
saja sepertinya belum cukup?
Menikah dengan
Pangeran Tampan nan Baik hati dan Hidup Bahagia selamanya.
Impian semua
perempuan adalah sama, ingin menjadi seorang Pengantin, Menikah, dan Hidup
Bahagia selamanya.
Tapi saya tidak akan membahas resensi film Cinderella
secara jelas seperti yang ada dalam buku-buku dongeng, film kartun, atau film manusianya.
Saya hanya ingin berbagi, bagaimana kita bisa belajar dari cerita Cinderella
itu. Pertemuan adalah sebuah takdir yang sudah Allah gariskan untuk setiap
hambaNya, dan ini yang saya yakini hingga kini. Saya tidak tau bagaimana bisa,
seorang perempuan biasa bukan tamu yang diundang, bisa menghadiri sebuah pesta
megah yang diadakan di sebuah kerajaan, selian karena bantuan peri baik hati.
Bagaimana pula tiba-tiba si pangeran begitu terkagum-kagum
dengan Cinderella yang sudah berganti penampilan menjadi seorag Putri, dan
berdansa beberapa kali, tapi Sang Pangeran bisa begitu jatuh cinta kepada
Cinderella, padahal Pangeran tidak pernah tau dan tidak pernah mengenal
sebelumnya siapa gadis misterius yang tiba-tiba datang ke pestanya itu,
bukankah dalam pesta juga ada banyak putri-putri yang cantik?
Dan bagaimana bisa ia yakin akan menemukan gadis misterius
di sebuah pesta dansa hanya dengan mencari sepatu kaca yang jatuh ketika gadis
itu pergi? Apakah ukuran kaki setiap orang itu berbeda? Saya yakin kaki saya
yang untuk sepatu no 39 ini banyak juga perempuan yang sama ukurannya, toh
kakak saya juga sama ukuran sepatunya 39 dan kita biasa bertukar sepatu.
Hanya dongeng, yah hanya dongeng jika akhirnya sepatu itu
berhasil sampai dikaki Cinderella. Dan akhirnya, pangeran berhasil menemukan Cinderella dan
menikahinya. Padahal kedua saudara tirinya sempat mencoba sepatu kaca itu, yang
satu kelonggaran dan yang satunya kesempitan. Tapi Hanya kaki Cinderella yang benar-benar
pas dengan Sepatu Kaca itu.
Maka ketika saya berfikir tentang jodoh saya siapa? Saya
bukan Cinderella, Sudah seharusnya saya menggantungkan keyakinan saya hanya
kepada Allah, bahwa jodoh saya itu seperti sepatu kaca Cinderella, tidak akan tertukar dengan siapa pun. Sesuatu
yang Allah takdirkan menjadi milik saya, Insya Allah akan sampai menjadi milik
saya, semoga saya punya keyakinan yang kuat seperti Pangeran tentang Jodoh
saya, meski hanya bertemu satu kali., dengan pertemuan yang benar-benar
singkat.
Bandung, 29 Desember
2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar