Sabtu, 28 Desember 2013

Bukan Cinderella


Karena takdir takan pernah salah memilih.

Kamu pasti ingat kisah ini, sebuah dongeng klasik yang berkali-kali diangkat ceritanya ke layar lebar dengan berbagai versi, termasuk versi Indonesianya zaman dulu. Cinderella, gadis malang yang sebatang kara harus hidup dengan seorang Ibu tiri, dan kedua orang saudara tirinya, yang diperlakukan secara kasar, harus melakukan segala pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh seorang pembantu rumah tangga. Padahal sebenarnya jika dilihat-lihat, ia bukanlah orang benar-benar miskin. Ini dongeng klasik, karena pada akhirnya gadis cantik yang baik hati dan penyabar ini dipertemukan dengan seorang Pangeran Tampan nan baik hati dari sebuah kerajaan, yang akhirnya dinikahi oleh pangeran dan hidup bahagia selamanya di Istana.
Dan entah kenapa setiap perempuan pasti suka kisah ini, apa yang disukai?

1.       Menjadi Cantik
Dikisahkan Cinderella ini adalah gadis sederhana yang berpenampilan ala kadarnya dan apa adanya, tanpa kosmetik, tanpa pakaian-pakaian bagus dan mahal, tanpa sepatu dan aksesoris apapun yang melekat ditubuhnya, namun dengan peri baik hati ia merubah Cinderellan menjadi seorang putri yang cantik yang mengenakan gaun terbaik, dengan perhiasan, dan sepatu kaca yang menawan, pasti itu impian semua perempuan.

2.       Bertemu dengan Pangeran Tampan
Ah, sepertinya bukan hanya Cinderella yang ingin bertemu Pangeran Tampan nan baik hati, yang lahir dari keluarga terpandang dan kaya raya. Setiap perempuan pasti ingin bisa bertemu dengan pangeran seperti itu, meski mungkin saat ini tidak ada pangeran yang mengendarai kuda putih seperti di cerita dongeng tersebut.

3.       Bertemu saja sepertinya belum cukup?
Menikah dengan Pangeran Tampan nan Baik hati dan Hidup Bahagia selamanya.
Impian semua perempuan adalah sama, ingin menjadi seorang Pengantin, Menikah, dan Hidup Bahagia selamanya.

Tapi saya tidak akan membahas resensi film Cinderella secara jelas seperti yang ada dalam buku-buku dongeng, film kartun, atau film manusianya. Saya hanya ingin berbagi, bagaimana kita bisa belajar dari cerita Cinderella itu. Pertemuan adalah sebuah takdir yang sudah Allah gariskan untuk setiap hambaNya, dan ini yang saya yakini hingga kini. Saya tidak tau bagaimana bisa, seorang perempuan biasa bukan tamu yang diundang, bisa menghadiri sebuah pesta megah yang diadakan di sebuah kerajaan, selian karena bantuan peri baik hati.

Bagaimana pula tiba-tiba si pangeran begitu terkagum-kagum dengan Cinderella yang sudah berganti penampilan menjadi seorag Putri, dan berdansa beberapa kali, tapi Sang Pangeran bisa begitu jatuh cinta kepada Cinderella, padahal Pangeran tidak pernah tau dan tidak pernah mengenal sebelumnya siapa gadis misterius yang tiba-tiba datang ke pestanya itu, bukankah dalam pesta juga ada banyak putri-putri yang cantik?

Dan bagaimana bisa ia yakin akan menemukan gadis misterius di sebuah pesta dansa hanya dengan mencari sepatu kaca yang jatuh ketika gadis itu pergi? Apakah ukuran kaki setiap orang itu berbeda? Saya yakin kaki saya yang untuk sepatu no 39 ini banyak juga perempuan yang sama ukurannya, toh kakak saya juga sama ukuran sepatunya 39 dan kita biasa bertukar sepatu.

Hanya dongeng, yah hanya dongeng jika akhirnya sepatu itu berhasil sampai dikaki Cinderella. Dan akhirnya,  pangeran berhasil menemukan Cinderella dan menikahinya. Padahal kedua saudara tirinya sempat mencoba sepatu kaca itu, yang satu kelonggaran dan yang satunya kesempitan. Tapi Hanya kaki Cinderella yang benar-benar pas dengan Sepatu Kaca itu.

Maka ketika saya berfikir tentang jodoh saya siapa? Saya bukan Cinderella, Sudah seharusnya saya menggantungkan keyakinan saya hanya kepada Allah, bahwa jodoh saya itu seperti sepatu kaca Cinderella,  tidak akan tertukar dengan siapa pun. Sesuatu yang Allah takdirkan menjadi milik saya, Insya Allah akan sampai menjadi milik saya, semoga saya punya keyakinan yang kuat seperti Pangeran tentang Jodoh saya, meski hanya bertemu satu kali., dengan pertemuan yang benar-benar singkat.



Bandung, 29 Desember 2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar