Sebenarnya ketika saya berfikir
dan mencoba menafakuri jalan hidup saya, dan orang-orang yang saya kenal, saya
menjadi lebih sadar, bahwa hakikat kehidupan yang sudah Allah gariskan dalam
hidup kita haruslah disyukuri...
Saya melihat orang yang lebih layak
untuk mengeluh, tapi dia memilih untuk menikmati hidupnya dengan penuh rasa
syukur...
Saya juga melihat orang yang
lebih layak sombong (jika dia mau) tapi
nyatanya ia begitu tawadhu dan rendah hati, seseorang yang menyembunyikan
amal-amal baiknya dari penglihatan manusia, maka tak pelak ia lebih dikenal
oleh penduduk langit daripada penduduk bumi yang penglihatan serta
pendengarannya terbatas, ia sadar kalau dirinya hanya makhluk lemah dihadapan
Sang Khalik.
Dam begitulah... saya mencoba
belajar menjadi manusia yang pandai bersyukur...., tidak banyak mengeluh, dan
tidak banyak menuntut kepada Allah. Kehidupan dan manusia-manusia yang saya
jumpai tiap harilah yang mengajari saya bagaimana caranya untuk bersyukur...
Ada beberapa kejadian dalam hidup
saya yang masih tersimpan dalam otak saya..., begitu membekas dihati saya.
Dahulu... ketika saya kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia saya tiap hari
menggunakan angkot (angkutan umum) sebagai satu-satunya alat transportasi
menuju kampus, jarang sekali diantar, karena kendaraan satu-satunya pada saat
itu (motor) harus bapak jual untuk biaya kuliah saya dan ketiga kakak saya.
Saya masih ingat kakak pertama
saya harus kuliah disalah satu perguruan tinggi negeri dikota hujan, kakak
kedua saya kuliah di Jatinangor, yah PTN terkenal disana. Dan Kakak saya yang
ketika pada saat itu harus bekerja sambil kuliah di Universitas yang sama
dengan saya. Begitulah kakak saya masing-masing harus berjuang mencari tambahan
biaya kuliahnya yang tidak sedikit. Sementara saya yang baru masuk kuliah dan
belum punya banyak Ilmu dan keahlian belajar meringankan beban ortu saya dengan
tidak banyak menuntut, dan juga berusaha mencari tambahan dengan mengajar
dimana saja.
Kembali ke angkot... rumah saya
dengan kampus memang tidak terlalu dekat..., harus naik 2 kali angkot. Pertama
angkot cijerah-sederhana yang turun di depan RS Hasan Sadikin, dan kemudian
disambung dengan angkot berwarna putih
gading jurusan Ciroyom-Lembang. Selama perjalanan mata saya tak henti melihat
jalan-jalan dan bangunan yang ada sepanajang jalan, begitu pun pulangnya, saya
biasa melewati RS Hasan Sadikin.
Dan taukah sahabat pemandangan
apa yang saya liat pada saat itu? Entah sengaja, atau tidak sengaja mata saya
tertuju pada seorang bapak tua yang duduk di trotoar RS Hasan Sadikin, bapak
tua yang malang... bajunya compang-camping, entah berapa hari tidak mandi,
entah sadar atau tidak, entah normal atau sakit jiwa.Namun ia hanya duduk
termenung dengan tatapan mata yang kosong, atau terkadang tertidur dengan beberapa
kantong plastik berisi sampah dsb.
Bapak yang malang itu... begitu
menyedihkan.... dan dia selalu duduk dengan lemas, dibawah sebuah pohon tua
yang kekar..., dan terkadang saat saya pergi pagi-pagi, bapak tua itu sudah
berada didepan tumpukan sampah, entah mencari apa... mungkin mencari sesuatu
yang bisa dimakan... :’( dan begitulah hampir setiap hari...
Tau sahabat apa yang ada dalam
benak saya?
Saya berfikir... seorang
gelandangan (maaf) atau orang gila (maaf) saja... masih dititipi nyawa untuk
hidup, saya sempat berfikir kenapa bapak tua yang malang itu tidak mati...,
padahal mungkin saja berhari-hari dia tidak makan... dan mungkin saja dia makan
sampah (maaf)... tapi begitulah setiap kali, setiap hari saya melewati jalan
hasan sadikin bapak tua itu masih hidup...
Siapa yang bisa menentang
kehendak Allah?...
Dan logika serta nalar kita takan
mampu menjangkaunya, Allah telah menentukan umur setiap jiwa, kematian takan
pernah terjadi tanpa kehendaknya..., dan kita yang dikaruniai akal oleh Allah
hendaknya benar-benar berfikir... bahwa segala karunia yang telah Allah
titipkan kepada kita benar-benar dapat kita gunakan dengan baik, kita takan
pernah tau kapan malaikat maut akan menjemput kita, mempersiapkan kematian itu
lebih baik, daripada memikirkan masalah kehidupan yang tidak ada habisnya...
selama kita hidup, selama itu pula masalah akan datang sebagai ujian dan cobaan
bagi orang-orang yang beriman...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar