Rabu, 06 Maret 2013

Kontemplasi


Sebenarnya ketika saya berfikir dan mencoba menafakuri jalan hidup saya, dan orang-orang yang saya kenal, saya menjadi lebih sadar, bahwa hakikat kehidupan yang sudah Allah gariskan dalam hidup kita haruslah disyukuri...

Saya melihat orang yang lebih layak untuk mengeluh, tapi dia memilih untuk menikmati hidupnya dengan penuh rasa syukur...


Saya juga melihat orang yang lebih layak sombong (jika dia mau)  tapi nyatanya ia begitu tawadhu dan rendah hati, seseorang yang menyembunyikan amal-amal baiknya dari penglihatan manusia, maka tak pelak ia lebih dikenal oleh penduduk langit daripada penduduk bumi yang penglihatan serta pendengarannya terbatas, ia sadar kalau dirinya hanya makhluk lemah dihadapan Sang Khalik.

Dam begitulah... saya mencoba belajar menjadi manusia yang pandai bersyukur...., tidak banyak mengeluh, dan tidak banyak menuntut kepada Allah. Kehidupan dan manusia-manusia yang saya jumpai tiap harilah yang mengajari saya bagaimana caranya untuk bersyukur...

Ada beberapa kejadian dalam hidup saya yang masih tersimpan dalam otak saya..., begitu membekas dihati saya. Dahulu... ketika saya kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia saya tiap hari menggunakan angkot (angkutan umum) sebagai satu-satunya alat transportasi menuju kampus, jarang sekali diantar, karena kendaraan satu-satunya pada saat itu (motor) harus bapak jual untuk biaya kuliah saya dan ketiga kakak saya.

Saya masih ingat kakak pertama saya harus kuliah disalah satu perguruan tinggi negeri dikota hujan, kakak kedua saya kuliah di Jatinangor, yah PTN terkenal disana. Dan Kakak saya yang ketika pada saat itu harus bekerja sambil kuliah di Universitas yang sama dengan saya. Begitulah kakak saya masing-masing harus berjuang mencari tambahan biaya kuliahnya yang tidak sedikit. Sementara saya yang baru masuk kuliah dan belum punya banyak Ilmu dan keahlian belajar meringankan beban ortu saya dengan tidak banyak menuntut, dan juga berusaha mencari tambahan dengan mengajar dimana saja.

Kembali ke angkot... rumah saya dengan kampus memang tidak terlalu dekat..., harus naik 2 kali angkot. Pertama angkot cijerah-sederhana yang turun di depan RS Hasan Sadikin, dan kemudian disambung dengan angkot berwarna  putih gading jurusan Ciroyom-Lembang. Selama perjalanan mata saya tak henti melihat jalan-jalan dan bangunan yang ada sepanajang jalan, begitu pun pulangnya, saya biasa melewati RS Hasan Sadikin.

Dan taukah sahabat pemandangan apa yang saya liat pada saat itu? Entah sengaja, atau tidak sengaja mata saya tertuju pada seorang bapak tua yang duduk di trotoar RS Hasan Sadikin, bapak tua yang malang... bajunya compang-camping, entah berapa hari tidak mandi, entah sadar atau tidak, entah normal atau sakit jiwa.Namun ia hanya duduk termenung dengan tatapan mata yang kosong, atau terkadang tertidur dengan beberapa kantong plastik berisi sampah dsb.

Bapak yang malang itu... begitu menyedihkan.... dan dia selalu duduk dengan lemas, dibawah sebuah pohon tua yang kekar..., dan terkadang saat saya pergi pagi-pagi, bapak tua itu sudah berada didepan tumpukan sampah, entah mencari apa... mungkin mencari sesuatu yang bisa dimakan... :’( dan begitulah hampir setiap hari...

Tau sahabat apa yang ada dalam benak saya?

Saya berfikir... seorang gelandangan (maaf) atau orang gila (maaf) saja... masih dititipi nyawa untuk hidup, saya sempat berfikir kenapa bapak tua yang malang itu tidak mati..., padahal mungkin saja berhari-hari dia tidak makan... dan mungkin saja dia makan sampah (maaf)... tapi begitulah setiap kali, setiap hari saya melewati jalan hasan sadikin bapak tua itu masih hidup...

Siapa yang bisa menentang kehendak Allah?...

Dan logika serta nalar kita takan mampu menjangkaunya, Allah telah menentukan umur setiap jiwa, kematian takan pernah terjadi tanpa kehendaknya..., dan kita yang dikaruniai akal oleh Allah hendaknya benar-benar berfikir... bahwa segala karunia yang telah Allah titipkan kepada kita benar-benar dapat kita gunakan dengan baik, kita takan pernah tau kapan malaikat maut akan menjemput kita, mempersiapkan kematian itu lebih baik, daripada memikirkan masalah kehidupan yang tidak ada habisnya... selama kita hidup, selama itu pula masalah akan datang sebagai ujian dan cobaan bagi  orang-orang yang beriman...





Tidak ada komentar:

Posting Komentar