Minggu siang di Jakarta.... 11 Maret 2012
Seperti yang sudah aku persiapkan jauh-jauh hari..., Islamic Book Fair 2012. Adalah salah satu agenda penting yang tidak boleh dilewatkan untuk dihadiri. Tahun lalu, pertama kali datang begitu takjub, kenapa? Di Bandung Pameran buku itu hanya beberapa kali terjadi dalam satu tahun. Itupun tempatnya selalu di Gedung Landmark jalan Braga, tempat yang menurutku tidak begitu luas, sehingga wajar saja jika tiap tahun, penerbit yang banyak memenuhi stand, itu lagi-itu lagi.
Sejak kecil aku memang suka membaca buku, awalnya hanya mendengar dongeng sebelum tidur, tapi lama kelamaan, setelah bisa membaca, suka diajak ke toko buku. Bacaaan anak-anak pada saat aku kecil tentu saja komik, tapi seiring pertambahan usia, bacaaanku pun mulai berubah. Menginjak SMP bacaannya masih ringan, sesuatu yang berhubungan dengan remaja. Majalah yang dibacapun berubah, dari majalah Bobo, majalah Donal Bebek, hingga majalah khas perempuan yang Covernya selalu diisi oleh gadis-gadis cantik, ABG tanggung yang selalu tersenyum 4cm .
Beranjak SMA... mulai mengurangi membaca majalah-majalah gak penting kaya gitu, secara aku bukan gadis remaja yang modis dan gaul. Semuanya berubah saat aku tau mesjid dan mulai mengenakan jilbab, bacaannya mulai beralih ke majalah muslimah macam An-Nida, bahkan lebih sering membaca NORI (Novel Remaja Islam) novel karyanya mba helvy, asma nadia, dan pipit senja, namun saat itu pun sebenarnya sudah mulai berubah sedikit demi sedikit, secara aku adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Saat aku SMA kakak-kakakku tentunya sedang kuliah. Dan akhirnya majalah milik merekalah yang sering aku baca.
Dan mulailah aku mengenal beberapa bacaan muslim, apa saja? Banyak! Mulai dari Sabili, itu adalah majalah Islam yang banyak memuat fakta-fakta yang tak banyak aku tau, apalagi saat itu tengah ramai-ramainya konflik agama di Poso dan Ambon, belum lagi perjuangan saudara-saudara muslim kita di Palestina atau di Checnya. Tak lupa cerita memilukan tentang pembantaian yang terjadi pada ribuan umat muslim di Bosnia, tragis! Majalah tarbawi, majalah Al-Izah, hingga Al-Wa’ie bahkan As-Sunah pun pernah kubaca.
Dan perubahan yang besar terjadi pada saat aku Kuliah, ada satu majalah kecil yang berjudul Open Mind disana, entahlah... Idealismenya tengah menggelegak pada saat itu, mengenal beberapa harakah dan pergerakan yang terjadi dikampus, Dari yang kanan, kanan kekiri-kirian, bahkan yang kiri sekalipun. Entahlah, mungkin karena sikap skeptisku, hingga pada akhirnya tahun 2007 aku mengenal dan berkenalan dengan seseorang yang banyak memberiku cara pandang yang berbeda, seorang sahabat yang cerdas, yang mungkin secara tidak langsung mempengaruhi pola fikirku pada saat itu, intinya aku orang yang punya rasa ingin tahu begitu besar. Dan sahabatku ini yang entah berasal dari dunia mana masa lalunya banyak memberikan input berfikir untuk otakku.
Dari banyak tulisannya, akhirnya aku jadi banyak belajar, aku jadi banyak membaca buku yang suka dia baca, mulai dari buku Sastra, Sejarah, Politik, hingga Filsafat. Mulai dari bukunya Pramudya Anantatoer, Karl May, Jean Paul Sartre, Ali Syariati, hingga seoarng ulama Syiah Murthada Muthahari. Mungkin tak banyak yang aku pahami dari buku-buku tersebut, apalagi belajar filsafat, aku tidak menyukai filsafat. Maka jangan heran, ketika kuliah aku sering sekali mengunjungi perpustakaan.
Hal itu tanpa sadar ternyata diperhatikan oleh beberapa sahabat dekatku, hingga pada ulang tahunku yang kesekian (aku lupa), mereka menghadiahkan aku sebuah buku yang judulnya nampak aneh bagiku. “Revolusi Spritual” (sampai sekarang belum pernah di khatamkan) , satu pertanyaanku pada mereka saat itu “Kok bukunya kaya gini?”, aku berfikir mereka akan memberikanku sebuah buku tentang wanita, atau buku Islam lainnya. Tapi mereka menjawab dengan ringan “Soalnya kami tau, kamu sukanya baca buku yang berat-berat”.... hahahaha.... Pada saat itu aku hanya bisa tersenyum simpul.
Kembali pada sahabatku sang penulis tadi,... entah mengapa aku selalu punya keyakinan, jika suatu saat nanti ia pasti akan menjadi seorang penulis buku yang sesungguhnya. Aku selalu percaya itu. Meski pada akhirnya aku benar-benar tidak pernah lagi berkomunikasi dengannya, karena ia telah hijrah entah kemana.
5 tahun berlalu....
Dan siang itu, pada saat menyusuri stand- stand beberapa penerbit di Islamic Book Fair, tanpa sengaja aku melewati sebuah stand penerbit, dan menemukan sebuah nama yang tak asing di mataku, dalam buku yang covernya berwarna hitam itu, tertulis sebuah judul :
RIANG MERAPI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar