Tatapan matanya kosong...., ia hanya memandang ke arah jendela mobil, menatap awan yang mulai gelap, tak ada sepatah kata yang terucap dari bibirnya, namun di pelupuk matanya ada air yang menetes membasahi pipinya....
Aku tidak tau kapan persisnya aku mengenalmu..., meskipun aku tau ada banyak perbedaan diantara kita, aku tau... kita berada di titik yang sama, Islam!
Taukah kau sahabat? jika aku selalu mengagumimu, kau memang bukan orang pertama yang mengajarkan aku tentang Islam, tapi jujur sejak mengenalmu aku jadi belajar banyak hal. Entah telah berapa puluh atau berapa ratus hari aku habiskan bersamamu.
Kau... selalu ada didepanku, walau saat berjalan kita selalu berdampingan...., aku jadi teringat kata-kata seorang penulis di sebuah majalah.
“Sahabat itu adalah orang yang selalu ada disampingmu, bukan orang yang ada di depan, atau dibelakang saat kau berjalan”
Melihatmu... aku seperti melihat Abu Bakar Ash- Siddiq..., kenapa?
Aku seperti Umar Bin Khattab, yang selalu terdahului amalannya dengan Abu Bakar Ash Siddiq.
Kau adalah orang yang selalu berada dalam barisan terdepan dalam berdakwah, masih ingat mentor
ing yang dilakukan pada saat ujian tengah semester tahun lalu? Majelis ilmu itu hanya di hadiri oleh 3 orang, Kau, Aku, dan Akang Mentor yang tak pernah letih datang ke sekolah disela-sela tugas kuliah dan dan seabreg agendanya sebagai aktivis kampus. Sementara 5 orang sahabat yang lain tidak datang, dengan alasan mau belajar buat UTS.
Atau kau masih ingat saat kita sibuk mempersiapkan acara Daurah Sekolah di Bulan Ramadhan, kita memasang pamflet dimana-mana, mengelilingi bandung dengan motor, ditengah hujan gerimis yang membuat tubuh kita menggigil kedinginan.
Atau saat Pelantikan pengurus Baru, kita harus survey tempat Out Bond mencari jalur yang paling aman untuk adik-adik kita, berjalan sejauh puluhan kilometer, berlumuran lumpur, tersesat di hutan pinus lembang, hingga dikejar-kejar anjing liar yang kelaparan.
Dan... saat naik ke kelas 3 dengan berbagai ujian yang akan kita hadapi baik UAN maupun SNMPTN, banyak sahabat-sahabat kita satu persatu mulai mengurangi aktifitasnya di DKM, bahkan keluar tanpa pesan dengan alasan ingin lebih fokus dengan pelajaran, Nilai Raport, Nilai UAN, dan tentunya masa depan yang cerah menuju Kampus yang di Impikan, kau tetap berada di DKM ini, masih sempat menyisakan waktu, tenaga, dan ilmumu untuk membina adik-adik kita menjadi pengurus selanjutnya.
Kau tetap berada di jalan ini...., aku tau kau adalah orang yang paling istiqomah diantara kami bertujuh. Godaan sebagai pelajar SMA, nyatanya tak berhasil menggetarkan keimananmu, apalagi dalam hal menjaga hijab! Saat beberapa dari kami, masih sering melakukan kebiasaan lama kami, smsan, telepon2nan, chatting atau wall-wallan di FB dan twitter dengan lawan jenis, kau tetap saja dengan prinsipmu, itulah yang membuat teman-teman akhwat selalu merasa segan dan takut jika harus berurusan denganmu. Kau adalah orang yang paling pandai menyembunyikan kegalauanmu!
Diakhir kita menempuh UAN pun, kau mendapatkan nilai terbaik, dan menerima Besiswa dari salah satu perguruan tinggi negeri hingga jenjang S2. Untuk masalah ilmu, amal, atau ibadah. Jelas sekali aku selalu ketinggalan darimu. Aku tidak pernah lupa saat akang mentor memuji hafalan Quranmu yang justru meningkat pesat di akhir-akhir kita meninggalkan bangku sekolah, bagaimana mungkin ditengah Ujian Praktek, Ujian Sekolah, hingga UAN, kau bisa menghafal 1 juz Al-Quran, juz ke 29!
Dan hingga kini... saat kita berada di kampus yang sama, penilaianku terhadapmu belum berubah, hingga saat aku melihatmu seperti ini... Saat berada didalam mobil, disampingku aku melihatmu....
Tatapan matanya kosong...., ia hanya memandang ke arah jendela mobil, menatap awan yang mulai gelap, tak ada sepatah kata yang terucap dari bibirnya, namun di pelupuk matanya ada air yang menetes membasahi pipinya...
Demi Allah! Selama 3 tahun aku mengenalmu di SMA, aku tidak pernah sekalipun melihatmu menangis. Aku tau, kau, aku, dan sahabat-sahabat lain memiliki masalah dalam hidup. Namun entah saat kita sedang bersama-sama, atau saat mentoring sekalipun, kau satu-satunya orang yang tidak pernah mengutarakan masalah pribadimu kepada kami. Aku, sahabat-sahabat yang lain, bahkan akang mentorpun sudah sangat paham dengan kepribadianmu, Kau tidak akan membagi masalahmu kepada manusia, kau hanya akan membaginya pada saat Qiyyamul Lail dengan Allah SWT.
Penilaianku terhadapmu tidak akan pernah berubah kawan!
Sekalipun kau telah melakukan kesalahan atau kekhilafan, aku tau kau orang yang paling kuat diantara kami dalam menjaga diri dari perbuatan dosa, dan selama aku mengenalmu, aku tidak pernah melihatmu melakukan kesalahan yang fatal.
Aku tau ada masalah, ada ujian, ada cobaan yang menimpamu..., dan aku bisa melihatnya dari matamu, dan aku yakin... kau tak akan pernah membaginya dengan kami...., tapi percayalah aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu...., aku tak akan pernah lupa menyebut namamu dalam setiap doa di sholatku.

Subhanallah, bagus sekali teh..
BalasHapusizin share boleh ya ^^