Kamis, 21 April 2011

Aisyah...


Aku lupa kapan pertama kali aku mengenalnya, yang  jelas pertemuan kami terjadi dalam sebuah ruangan kecil bernama Mushala.

Siang itu perutku terasa lapar, waktu makan siangpun sepertinya sudah berlalu beberapa jam ketika terakhir kali aku melihat di tanganku jam sudah menunjukkan pukul 15.00. Tak ada tempat yang lebih nyaman selain mushala bagiku. Di tempatku bekerja, hanya mushala tempat yang nyaman untuk beristirahat selain untuk melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim.


Mushala itu biasanya hanya penuh pada jam-jam tertentu, tentunya pada saat azan pertanda sholat sudah berkumandang. Namun siang itu dalam mushala kecil aku temui seorang gadis remaja tengah asyik menerima telepon, gadis itu belum pernah aku lihat sebelumnya, dan tentu saja dia bukan muridku. Gadis itu berkerudung putih, menggunakan seragam yang tak lazim digunakan oleh murid-muridku yang duduk dibangku smp. Ia mengenakan seragam atasan berwarna merah, dengan rok rempel berwarna merah kotak-kotak. Gadis ini terlihat cantik dengan seragam yang ia pakai, saat melihatku ia sempat menundukkan wajahnya kepadaku, dan tersenyum simpul. Aku pun sempat menawarinya makan dengan isyarat, dan ia hanya tersenyum. (belakangan aku tau ia bersekolah di SMP Swasta di kota Bandung)

Saat aku makan, tanpa sadar aku mendengar apa yang dibicarakan gadis itu di telepon. Suaranya naik turun, kadang ia merajuk manja, bahkan ada sedikit tangis dalam ucapannya. Sepertinya ia tengah memendam rasa rindu pada orang yang ia ajak bicara. Tak terasa hampir 15 menit aku menyelesaikan makan siangku yang terlalu siang itu. Dan pada saat aku selesai makan, ia pun selesai menerima telepon.

Saya                    : “ Abis curhat yah?”

Gadis Kecil          : “ Iyah... tadi umi yang telepon”

Saya                    : “ Kenapa? Kangen yah? Emang tinggal dimana keluarganya?”

Gadis Kecil          : “ mmmh... di Bandung juga bu. Tapi di Cimahi, di Sekolah saya tinggal di asrama bu”

Saya                    : “ Muridnya siapa?”

Gadis Kecil          : “ Saya Aisyah bu... muridnya bu Sonya. Udah sore, saya pulang duluan ya bu...,
                               Assalamualaikum....”.

Itulah pertama kali aku mengenal anak itu, dia bukan muridku tapi diakhir pembelajaran ia sempat
Masuk beberapa kali di kelasku. Anak ini adalah anak cerdas, menjelang UAN ia adalah murid yang
Paling rajin datang untuk belajar, dia murid yang datang paling awal dan pulang paling akhir. Entah
Apa yang ada dalam benakku, tapi aku begitu menyayangi anak ini. Dan aku selalu merasakan
Keteduhan dan ketenangan jiwa dalam anak ini. Hingga suatu saat tiba-tiba saja sebuah pertanyaan
Terlintas dalam fikiranku saat ia sedang asyik mengerjakan soal.

Saya              : “Aisyah..., kamu rajin Qiyamul Lail yah?”

Aisyah           : “ mmmh, insya allah bu. Kalo gak ketiduran, abis dari SD udah biasa di bangunin sama     umi buat sholat qiyamul lail, emang kenapa bu?”

Saya              : “Enggak apa-apa... terusin lagi ngerjain soalnya...”

Inilah jawabannya..., mengapa anak ini begitu cantik, cerdas, dan berakhlak baik. Inilah yang menjadi
Alasannya, betapa Allah menyayangimu Aisyah. Aku yang usianya lebih tua darinya, belum mampu
Seistiqomah dia dalam melaksanakan sholat qiyamulail. 
Aku jadi teringat dalam  salah satu hadist, Rasullulah bersabda :

Sesungguhnya surga itu memiliki kamar-kamar yang bagian luarnya tampak dari dalam dan  bagian
Dalamnya tampak dari luar, kamar-kamar itu Allah SWT sediakan untuk orang-orang yang senang
Memberikan makanan, lembut dalam berbicara, banyak berpuasa, menyebarkan salam, dan
mengerjakan shalat pada waktu malam saat orang banyak terlelap tidur (HR Ahmad, Ibnu Hibban,
Dan Tirmidzi)

Suatu Ketika Hasan Al-Basri ditanya : “Mengapa wajah orang yang shalat qiyyamul lail (tahajjud)
Begitu nampak berseri-seri?” Hasan Al- Basri menjawab, “Karena mereka menyendiri (berkhalwat)
Dengan Yang Maha Pengasih lagi Maha Tinggi, maka Dia menutupi mereka dengan cahayaNya!”

Tak terasa waktupun berlalu begitu cepat, beberapa hari sebelum UAN ia begitu rajin belajar, dan
Bekerja keras untuk dapat mendapatkan nilai UAN yang terbaik, dan lulus dalam tes seleksi masuk
Salah satu sekolah favorit di kota Bandung. Beberapa hari sebelum UAN, saya sempat memberikan
Hadiah kecil untuknya sebagai kenang-kenangan.

Saya            : “ Aisyah...., mudah-mudahan kamu keterima di SMA Favorit itu yah, jangan lupa nanti kalo  udah keterima disana. Kamu maen kesini lagi, ibu pengen liat kamu pake seragam SMA sekolah itu”
Aisyah            : “ Amin, makasih ya bu... Insya Allah, nanti aisyah maen lagi kesini”

Beberapa bulan kemudian, saat saya sedang memperhatikan murid-murid saya mengerjakan soal,
Seseorang menyapa saya.

” Assalamualaikum..., ibu apa kabar?”

(Aisyah mengenakan seragam putih abu, ia mengenakan pin SMA Favorit di Kota Bandung yang ia sematkan di jilbabnya)


Semoga Allah selalu melimpahkan RahmatNya untukmu...
21 April 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar