"Marwahmu tidak ditentukan oleh status, tapi oleh keteguhanmu dalam memegang prinsip dan akhlak baik" - Panji Syamsi
Pagi itu saya berencana untuk memperpanjang sim motor saya, karena sebentar lagi masa berlakunya habis, dan ketika saya duduk didepan petugas kepolisian, seorang bapaj setengah baya yang mungkin seusia dengan bapak melihat berkas saya yang ada disampul warna biru, dan beliau menyebutkan nama saya secara lengkap.
Tiba-tiba bapak itu berkata setelah menyebutkan nama saya secara lengkap
"Orang Jawa yaa?"
"iya, kok bapak tau? ga banyak yang ngeh sama nama saya, karena biasanya mereka akan menyebut nama saya dengan huruf "K" dibelakangnya, tapi bapak ini tidak.
Tidak berapa lama bapak ini menatap wajah saya dan melihat foto kopi KTP yang ada diberkas map berwarna biru
"kelahiran 87? tapi gak keliatan...."
Saya hanya tersenyum simpul dan mengucapkan "alhamdullilah pak"
tak lama bapak itu kembali melihat KTP saya, mungkin beliau membaca status di KTP saya.
"Sendiri? sendiri sekarang? Kok bisa?"
Saya kembali tersenyum dan berkata, "takdir pak"
"Jawanya mana?" bapak itu kembali bertanya, saya paham karena bapak tersebut juga sepertinya orang jawa.
"Oh bapak saya dari Solo dan Ibu saya dari Madiun pak"
begitulah, akhirnya bapak itu memeriksa dan memastikan seluruh data saya yang ada dalam map tersebut benar, kemudian saya diminta untuk keruang selanjutnya mengisi form perpanjangan SIM.
Diberondong beberapa pertanyaan tentang identitas diri memang kadang membuat saya kurang nyaman, tapi alhamdullilah saya sudah bisa berdamai dengan diri saya sendiri, dan saya bersyukur Allah memberikan saya kekuatan, hingga saya bisa menjawab pertanyaan apapun itu dengan senyuman. Beberapa orang mungkin akan berempati kepada saya, termasuk bapak petugas kepolisian tadi, saya melihat ada gurat kesedihan diwajahnya melihat saya, walau diakhir beliau tersenyum, saya sempat mendengar bapak itu berkata "sayang sekali ya.., sambil melihat wajah saya beberapa kali.
Dan begitulah, beberapa orang yang mengenal saya, apalagi mengenal saya dari saya kecil pasti akan memeluk saya menguatkan saya, dan mendoakan yang terbaik untuk kehidupan saya, mereka tau saya adalah anak yang baik, yang tidak pernah memuat masalah dirumah maupun disekolah, saya juga anak yang cukup penurut dan jarang sekali menyusahkan orang tua, jadi ketika saya mendapatkan ujian/ataupun musibah mereka pasti support saya dan mendoakan yang terbaik untuk saya.
Di titik ini saya bersyukur, biarlah saya tetap berprasangka baik pada Allah, bahwa sejatinya ujian hidup yang pernah Allah berikan kepada saya, merupakan bentuk kasih sayang Allah pada saya, ini cara Allah menjadikan saya sebagai perempuan yang tagguh dan tidak mudah menyerah.
Semoga kelak saya bertemu dengan orang yang tepat, yang membuat saya semakin taat kepada Allah SWT, Aamin Ya Rabbal Alamiin.
Bandung 25 Maret 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar