“A good man will want you to shine. He wants you to be your amazing self. A good man loves to show off his happy, intelligent, amazing, powerful woman” -Anastasia Netri
Sebagai seorang perempyan yang
berusaha menjaga diri, sebenarnya saya selalu berusaha tidak terlalu membuka
diri terhadap lawan jenis, interaksi saya sebatas yang wajar seharusnya saya lakukan,
artinya saya tidak pernah punya hubungan special dengan laki-laki, hingga saat
ini. Dan pada akhirnya saya terbiasa melakukan apa-apa sendiri, dari yang receh
hingga yang besar yang mungkin nilainya tidak diukur dengan uang, alhamdullilah
itu membuat saya lebih kuat, mandiri, dan tidak bergantung pada siapa pun. Saya
tidak fakir cinta dan kasih sayang, alhamdullilah keluarga dan sahabat-sahabat
saya memberikan cinta dan kasih sayang yang berlimpah pada saya.
Saya percaya laki-laki baik itu
masih banyak, masih ada. Bukan Cuma laki-laki yang saya lihat di drama-drama
korea atau komik serial cantik. Hanya mungkin waktu yang belum mempertemukan
saya dengan laki-laki baik itu, dan tentu perjalanan waktu saya sebagai perempuan
merasakan juga perhatian dari laki-laki yang mungkin itu umum dan biasa, tetapi
bagi saya tidak biasa. Seperti saat beberapa tahun lalu ditahun 2013 saat salah
seorang murid saya rela hujan-hujanan hingga basah kuyup untuk mengantarkan
makan siang yang saya titip kepadanya.
Saya pegang Sebagian bajunya, meski
menggunakan jaket, tapi jelas itu basah sekali, hingga saya bertanya kepadanya “Kamu
ngapain kesini hujan-hujanan, kenapa ga nunggu hujannya reda aja?” dan dengan
santainya dia berkata kepada saya “Saya takut teteh lapar…” ya tentu saja hati
saya meleleh, ada seorang laki-laki yang begitu memperhatikan saya seperti itu,
meski saat itu dia hanya anak remaja berumur 17 tahun.
Dikemudian hari, entahlah ada
murid yang jarang sekali sekolah, dan saya sangat peduli kepadanya, hingga
kemudian dia merasa nyaman dengan saya sebagai gurunya, selesai belajar dia
mengajak saya ke kantin “Buu… jajan yuk ke kantin” dan saya dengan polosnya
bilang “yuk..tp uangnya dikamu dulu ya, ibu ga bawa uang, uangnya diatas, ntar
ibu ganti” dia jawab dengan santai “gausa buuu, dari aku aja, aku yang jajanin
ibuu” saya menghadapi anak sma kelas 10 yang begitu polosnya, dan benar saja
dikantin saya hanya jajan macaroni seharga Rp 3000 dan Beng beng Rp 2000, total
jajanan saya hanya sekitar Rp 5000. “Udah bu, itu aja jajannya?” saya jawab “iya
ini aja, makasih yah”. Logikanya saya yang sudah bekerja harusnya saya yang
jajanin dan bayarin murid saya, tapi dia yang serius mau jajanin saya, jujur
saya terharu, ini bukan tentang uangnya, tapi tentang ketulusan dia sebagai
murid saya, meskipun kemudian dikesempatan lain saya yang traktir dia jajan.
Dan juga Ketika saya memiliki seorang
teman dari Jepang, yang saya kenal lewat sosial media, dia bilang kalau saya
pasti akan mendapatkan teman baru di Jepang nanti, padahal saya belum pernah
memiliki teman warga negara asing selain dia, dia satu-satunya teman saya yang
berada diluar negeri yang bisa saya ajak diskusi. Semoga tahun depan saya
benar-benar bisa bertemu dengannya.
Dan kemarin saat saya mengantri
di puskesmas untuk mendapatkan surat rujukan bapak dan ibu, dokter bilang, “kamu
punya gula gak?” “Hati-hati yah, kan ibu
ada gula” “Sambil nunggu surat, kita cek
dulu yah” dokter mengoleskan alkohol ke
jari saya, menusukkan jarum dan mengambil sedikit darah saya untuk dicek dialat
Kesehatan untuk mengecek kadar gula, alhamdullilah hasilnya bagus, kadar gula
saya normal, tidak lama setelah itu, dokter juga mengetes tekanan darah saya,
alhamdullilah normal. Padahal saya
merasa sehat-sehat saja pagi itu, tapi dokter begitu perhatian pada saya, hingga
diperiksa walau tidak sakit, bahagia dan terharu si act of service yang
saya terima tidak harus dari pasangan. Dari sahabat, murid, bahkan dokter pun
saya bisa merasakannya.
Dari pengalaman-pengalaman itu saya percaya kalau laki-laki baik itu masih
ada, dan insya allah pada saatnya Allah akan mempertemukan saya dengannya,
aamiin.
Bandung, 4 Agustus 2024

Tidak ada komentar:
Posting Komentar