Alhamdullilah sudah hampir satu
bulan saya kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia, sebuah cita-cita atau
mungkin mimpi yang tertunda, berselang 14 tahun sejak saya lulus S1 akhirnya
saya kembali lagi ke “kelas” untuk belajar dengan guru-guru yang dulu mengajar
saya di S1, alhamdullilah sebagian besar dosen-dosen saya dahulu sudah menjadi
Guru Besar, dan banyak pula yang sudah menjadi Profesor. Alhamdullilah juga
memiliki teman-teman yang sangat baik ada 13 orang, dengan latar belakang yang
sangat beragam.
Dan kabar baiknya adalah
sanggahan saya diberkas Beasiswa diterima, saya terjadwalkan untuk wawancara
ditanggal 21 September hari Selasa. Apa yang siapkan? Tentu saja belajar dan
latihan, alhamdullilah salah satu teman yang berhasil lolos beasiswa LPDP memberikan
banyak masukan terkait wawancara, dan dengan berbaik hati beliau pula yang
mencarikan anak beasiswa BPI yang bisa membantu saya latihan Wawancara, dan
tentu saja karena beliau lebih berpengalaman dari saya, pertanyaan-pertanyaan
yang diajukan tentu tidak mudah dan terasa sedikit “menyerang”. Selesai itu pun
saya lanjut untuk latihan lagi dengan sahabat saya yang tahun lalu diterima
beasiswa BPI ini, alhamdullialh lebih tercerahkan, namun setelahnya tiba-tiba saja hati saya menjadi
lemah, entah karena saya lelah tapi tiba-tiba saja saya menangis melihat
perjalanan saya sudah ada dititik ini.
Dan esok haripun tiba, wawancara
terjadwalkan pukul 13.00 namun 2 jam sebelumnya saya diminta sudah hadir
diruang zoom yang sudah disediakan, Hari
Selasa adalah hari yang sangat padat, 4 mata kuliah dengan total 11 sks. Saya
hanya berfikir dimana saya akan melakukan wawancara, sementara saya berada
dilantai 5 dengan beberapa ruang kelas besar yang dipake juga oleh prodi lain,
ingin keluar gedung rasanya jauh, ah sudahlah salah satu tempat yang akan saya
gunakan adalah lorong menuju Toilet Dosen yang jarang dilalui oleh mahasiswa.
Dan ternyata ketika saya belajar
Aplikasi dan Kebijakan Makro dengan Prof Ika, sekitar pukul 10 lebih handphone
saya berbunyi, fasilitator meminta saya masuk ke ruang zoom, akhirnya saya
melihat ruang kelas sebelah kosong, saya masuk ke ruang zoom dengan HP.
Beberapa menit berlalu ketika seluruh Viewer/Pewawancara sudah ada, fasilitator
meminta saya menyalakan zoom via PC/atau Laptop. Dan ketika saya mengambil
Laptop tiba-tiba saja Zoomnya expired, minta update, dan itu lama sekali, maka
izinlah saya untuk menggunakan HP. Alhamdullilah panitia membolehkan dan
memberikan kesempatan kepada saya untuk wawancara menggunakan HP.
Alhamdullilah dosen pun
memberikan izin kepada saya untuk keluar dari kelas dan mengikuti kegiatan
wawancara dan ikut mendoakan juga agar wawancara lancar, lolos beasiswanya. Dan wawnacara pun berjalan sekitar 45 menit,
ada seorang ibu dan dua orang bapak-bapak yang bertugas mewawancara. Sebenarnya
elama beberapa tahun terakhir saya terlibat dalam PSB (Penerimaan Siswa Baru)
disekolah, dan saya seringkali diberi tugas untuk menjadi pewawancara, dan
ketika saya ada diposisi menjadi orang yang di wawancara tentu saja saya
merasakan rasa gugup terlebih yang mewawancara adalah psikolog dan dosen yang
sudah sangat berpengalaman, tapi alhamdullilah secara keseluruhan wawancara
bisa saya selesaikan dengan baik, saya bisa menjawab dengan baik
pertanyaan-pertanyaan dari tim panitia. Dan jauh lebih sulit pertanyaannya saat
latihan semalam. Wkwkwkkwk.
Apa saja pertanyaanya ? Mulai
dari alasan Kuliah lagi ? Mengapa mengambil S2 di UPI tidak dikampus lain ?
Tema Tesisnya nanti apa ? Kendala selama menjadi Guru apa? Hal yang paling
mengecewakan dalam hidup ? Prestasi yang pernah diraih ? Kegiatan tambahan
selain Guru ? sampai Essay saya tentang “Agent of Change” … ya begitulah
kira-kira yang mereka tanyakan.
Dan alhamdullilah segala
kemudahan Allah berikan, ketenangan saat menjawab, ruang kelas sebelah yang
kosong dan bisa saya gunakan untuk wawancara, Hp yang sinyal dan kuotanya ada
dan di izinkan karena zoom dilaptop error minta update, juga izin dari Profesor
untuk dapat keluar kelas mengikuti proses wawancara, saya sudah berikhtiar
dengan sungguh-sungguh, sisanya saya serahkan kepada Allah SWT, dari awal pun
sebenarnya saya sudah berniat, mau beasiswa ataupun tidak, yang penting rizknya
ada, dan Allah berikan kemudahan untuk semuanya.
Ya Allah terima kasih atas segala
kebaikanMu, jadikan aku sebagai sebaik-baik hamba yang pandai bersyukur,
aamiin.
Bandung, 24 September 2023

Tidak ada komentar:
Posting Komentar