Kamis, 31 Maret 2022

Ulang Tahun


“May God give you the strength and wisdow to smoothy surmount all the challenges life brings you. Stay blessed and enjoy your day to the fullest”

Sore itu saya membeli bunga dan kue, iya hari itu adalah hari ulang tahun saya, tidak ada perayaan apapun dirumah, teman pun saya tidak punya banyak teman, hanya ada satu teman yang menyempatkan diri bertemu saya siang itu, mugkin karena ia anak tunggal, yang sudah lama sendiri karena sejak kecil sudah ditinggal orang tuanya yang bercerai, dan dibesarkan oleh neneknya, hingga ia akhirnya kuliah dan hijrah ke bandung, kami adalah teman satu kamar waktu dulu mengajar dibontang, Kalimantan. Kami biasa bertemu dihari ulang tahun masing-masing, hanya untuk mengucapkan selamat, memberikan hadiah, dan sama-sama berdoa untuk kebaikan diri kami serta masa depan kami.

Semenjak ketiga kakak saya menikah dan berkeluarga otomatis saya menjadi anak tunggal dirumah, sepi iya, tapi waktu akhirnya membuat saya terbiasa, apalagi sejak dulu saya bukan anak gaul yang suka main kesana kemari, saya adalah anak rumahan yang lebih suka menghabiskan waktu dirumah, membaca, menulis, menonton, memasak, apapun yang bisa membuat suasana hati menjadi lebih baik. Tidak lama pertemuan saya dengan sahabat saya itu, saya pulang selepas melaksanakan sholat ashar.

Diperjalanan pulan langit mendung, hujan pun mulai turun perlahan, meski tidak sampai deras, tapi cukup membuat wajah saya basah, juga jaket saya sedikit basah, ketika sudah mau sampai rumah, dipinggir jalan saya melihat seorang pemuda yang menjual Cobek/Ulekan, ia menunduk ditengah hujan, dan saya melewatinya, tapi entah kenapa hati kecil saya terketuk, saya parkirkan motor saya sekitar 10 langkah dari pemuda itu, dan kembali menuju pemuda itu

“ a… ini berapaan ulekannya?”

“beda-beda bu, ada yang 50 ribu, 40 ribu, 35 ribu”

Saya memperhatikan ulekannya yang dia panggul itu masih cukup banyak dengan ukurna yang berbeda-beda, akhirnya saya coba tawar

“40 rb ya  a? kecil kan ini?”

“ga dapet atuh buu….” Wajahnya sangat memelas

“jangan panggil ibu, saya masih muda, panggil teteh aja, yauda yang ini aja satu, kembalian 10 ribu yah, mana plasitiknya?”

“gada plastiknya teh…”

“atuh si aa mah kumaha mau jualan teh ga bawa plastik, yauda mana kembaliannya?”

“gada teh, gada kembalian… belum laku dari pagi…”

“yauda sok tukerin dulu… “

Akhirnya pemuda itu beranjak dari tempatnya duduk untuk mencari kembalian, sebenarnya saya hanya ingin mengetes kegigihan pemuda itu, apakah dia mau menukarkan uangnya atau tidak, ketika dia berdiiri dan mau pergi menukarkan uangnya, saya panggil lagi pemuda itu

“a, udah gausa ditukerin, ambil aja kembaliannya”

“Ini benaran teh”

“iya…”

“makasih banyak, nuhun pisan ya teh…. “

“aa umur berapa?”

“17 tahun teh”

“sekolah? Kelas berapa ?

“enggak sekolah teh, saya Cuma ampe smp sekolahnya”

“rumahnya dimana?”

“di padalarang teh”

“oh, yauda… hati-hati yah, semangat jualannya”

“iya teh makasih…”

Sejujurnya hati saya lemas, lebih ke sedih, tidak bisa membayangkan ternyata ada banyak orang diluar sana, yang hidupnya lebih susah dan lebih sulit dari saya, saya jauh lebih ebruntung dari pemuda itu, pemuda yang seumur dengan murid-murid saya disekolah, yang seharusnya bisa sekolah dihari libur ditengah hujan gerimis harus berjualan, mencari pembeli yang mau membeli barangnya, sementara saya sendiri masih memiliki orang tua, kakak, keluarga, sahabat, adik-adik, bahkan murid-murid ayng sayang kepada saya, saya dapat mengenyam pendiidkan tinggi, hingga bisa bekerja dengan nyamanm ditepat yang baik, tanpa harus kepanasan ataupun kehujanan.

Sore itu gerimis, dan air mata saya pun menetes, saya hanya berdoa semoga Allah titipkan umur yang barakah kepada saya, semoga saya bisa menjadi sebaik-baik manusia, dan Allah cukupi apa yang saya butuhkan didunia, Ya Allah terimas kasih banyak atas nikmatMu…

 .Bandung, 2 April 2022

Tidak ada komentar:

Posting Komentar