“May God give you the strength and wisdow to smoothy surmount all the challenges life brings you. Stay blessed and enjoy your day to the fullest”
Sore itu saya membeli bunga dan
kue, iya hari itu adalah hari ulang tahun saya, tidak ada perayaan apapun
dirumah, teman pun saya tidak punya banyak teman, hanya ada satu teman yang menyempatkan
diri bertemu saya siang itu, mugkin karena ia anak tunggal, yang sudah lama
sendiri karena sejak kecil sudah ditinggal orang tuanya yang bercerai, dan
dibesarkan oleh neneknya, hingga ia akhirnya kuliah dan hijrah ke bandung, kami
adalah teman satu kamar waktu dulu mengajar dibontang, Kalimantan. Kami biasa
bertemu dihari ulang tahun masing-masing, hanya untuk mengucapkan selamat,
memberikan hadiah, dan sama-sama berdoa untuk kebaikan diri kami serta masa
depan kami.
Semenjak ketiga kakak saya
menikah dan berkeluarga otomatis saya menjadi anak tunggal dirumah, sepi iya,
tapi waktu akhirnya membuat saya terbiasa, apalagi sejak dulu saya bukan anak
gaul yang suka main kesana kemari, saya adalah anak rumahan yang lebih suka
menghabiskan waktu dirumah, membaca, menulis, menonton, memasak, apapun yang
bisa membuat suasana hati menjadi lebih baik. Tidak lama pertemuan saya dengan
sahabat saya itu, saya pulang selepas melaksanakan sholat ashar.
Diperjalanan pulan langit
mendung, hujan pun mulai turun perlahan, meski tidak sampai deras, tapi cukup
membuat wajah saya basah, juga jaket saya sedikit basah, ketika sudah mau
sampai rumah, dipinggir jalan saya melihat seorang pemuda yang menjual Cobek/Ulekan,
ia menunduk ditengah hujan, dan saya melewatinya, tapi entah kenapa hati kecil
saya terketuk, saya parkirkan motor saya sekitar 10 langkah dari pemuda itu,
dan kembali menuju pemuda itu
“ a… ini berapaan ulekannya?”
“beda-beda bu, ada yang 50 ribu,
40 ribu, 35 ribu”
Saya memperhatikan ulekannya yang
dia panggul itu masih cukup banyak dengan ukurna yang berbeda-beda, akhirnya
saya coba tawar
“40 rb ya a? kecil kan ini?”
“ga dapet atuh buu….” Wajahnya sangat
memelas
“jangan panggil ibu, saya masih
muda, panggil teteh aja, yauda yang ini aja satu, kembalian 10 ribu yah, mana
plasitiknya?”
“gada plastiknya teh…”
“atuh si aa mah kumaha mau jualan
teh ga bawa plastik, yauda mana kembaliannya?”
“gada teh, gada kembalian… belum
laku dari pagi…”
“yauda sok tukerin dulu… “
Akhirnya pemuda itu beranjak dari
tempatnya duduk untuk mencari kembalian, sebenarnya saya hanya ingin mengetes
kegigihan pemuda itu, apakah dia mau menukarkan uangnya atau tidak, ketika dia
berdiiri dan mau pergi menukarkan uangnya, saya panggil lagi pemuda itu
“a, udah gausa ditukerin, ambil
aja kembaliannya”
“Ini benaran teh”
“iya…”
“makasih banyak, nuhun pisan ya teh….
“
“aa umur berapa?”
“17 tahun teh”
“sekolah? Kelas berapa ?
“enggak sekolah teh, saya Cuma ampe
smp sekolahnya”
“rumahnya dimana?”
“di padalarang teh”
“oh, yauda… hati-hati yah,
semangat jualannya”
“iya teh makasih…”
Sejujurnya hati saya lemas, lebih
ke sedih, tidak bisa membayangkan ternyata ada banyak orang diluar sana, yang
hidupnya lebih susah dan lebih sulit dari saya, saya jauh lebih ebruntung dari
pemuda itu, pemuda yang seumur dengan murid-murid saya disekolah, yang
seharusnya bisa sekolah dihari libur ditengah hujan gerimis harus berjualan,
mencari pembeli yang mau membeli barangnya, sementara saya sendiri masih
memiliki orang tua, kakak, keluarga, sahabat, adik-adik, bahkan murid-murid
ayng sayang kepada saya, saya dapat mengenyam pendiidkan tinggi, hingga bisa
bekerja dengan nyamanm ditepat yang baik, tanpa harus kepanasan ataupun
kehujanan.
Sore itu gerimis, dan air mata
saya pun menetes, saya hanya berdoa semoga Allah titipkan umur yang barakah
kepada saya, semoga saya bisa menjadi sebaik-baik manusia, dan Allah cukupi apa
yang saya butuhkan didunia, Ya Allah terimas kasih banyak atas nikmatMu…
.Bandung, 2 April 2022

Tidak ada komentar:
Posting Komentar