Sabtu, 31 Oktober 2020

Economics

 


“Economics is a very dangerous sciance” – John Maynard Keynes

Saya jadi teringat alasan utama saya dulu mengambil jurusan ekonomi, saya tidak pandai matematika dan saya bukan anak IPA, dan saya ingin terlihat pintar ketika mengambil jurusan ekonomi yang relatif banyak hitungannya, yang kemudian agak sedikit saya sesali, karena pada kenyataannya saat kuliah, hampir semua mata kuliah yang ada hitungannya nilai saya selalu pas-pasan dan mendapat nilai C. Ya.. sedih... memang tidak bakat dihitungan.  Saya anak terakhir dari 4 bersaudara, dimana saya melihat kakak-kakak saya lebih pandai dari saya, mereka ketiganya anak IPA dan hanya saya sendiri yang anak IPS. Saya memng agak loading, mikirnya agak lama kalau untuk hitungan, entah apa alasannya, apa mungkin karena waktu dikandungan ibu saya terlalu banyak minum obat (dulu saya sempat mau di gugurkan ketika ibu hamil), tapi yasudahlah yang harus saya syukuri saya bisa lulus kuliah dan bisa menjadi guru ekonomi haha...

Dan kabar baiknya saya bisa mengajar ekonomi cukup lama dibimbel, kalau dihitung-hitung sejak kuliah saya sudah mulai mengajar, tahun 2008 di bimbingan belajar Primagama, yang entahlah masih ada atau tidak sekarang. kemudian pindah ke bimbel lain hingga 2017, ya kira-kira 9 tahun lamanya saya mengajar dibimbel, dan saya bersyukur karena pernah mengajar dibimbel saya punya murid sekota bandung dan cimahi, setau saya dibandung ada 27 sekolah negeri, dan hampir semua murid dari penjuru kota bandung sudah pernah saya ajar, itulah yang membuat saya kaya akan pengalaman, hingga ketika negara api menyerang, akhirnya saya terpaksa resign dari bimbel dan mulai mengajar disekolah.

Rezeky saya datang dari sekolah tahun 2017, dari sana saya mulai mendampingi anak-anak yang ikut lomba ekonomi dan akuntansi, selain itu saya juga mengajar pemantapan untuk persiapan UN, dimana anak-anak yang memilih mapel ekonomi di UN selalu sedikit haha... kata orang mapel Ekonomi kalau di jurusan IPA seperti mapel Fisika, banyak hitungan dan susah wkwkkwkwk. Iya memang sih, kenyataannya seperti itu. Tapi yang membuat saya semakin bersamangat, anak-anak yang memilih mapel Ekonomi ataupun anak Olim yang Ekonomi ada saja yang masuk PTN hal yang sangat membahagiakan untuk saya semenjak bergabung disekolah

Pertama kali saya bergabung disekolah itu tahun 2017, saat itu saya sempat mendampingi beberapa anak untuk mengikuti lomba akuntansi di POLBAN, ya walaupun hasilnya tidak juara, tapi satu dari anak Olim itu berhasil masuk PTN, Marsya dia diterima di Sastra Jepang UNPAD, selain Marsya ada pula Atifah anak pendiam yang rajin tambahan ekonomi dan memilih ekonomi di Ujian Nasional, iya juga masuk UPI jurusan Sastra Perancis.

Tahun 2018 saya mulai rajin dan melatih adik kelas Marsya untuk tambahan dan persiapan lomba-lomba, ada satu anak laki-laki yang paling rajin dan paling pintar ekonominya, namanya Wildan, dan tentu Wildan tidak sendiri, ada yasmin, armelia, maritsa, dan alhamdullilah ditahun itu anak-anak pernah Juara Harapan 1 Lomba Ekonomi di UNISBA, saya seneng banget, walau Cuma juara harapan tapi mereka bisa pulang bawa Piala, Sertifikat, dan Uang pembinaan. Dan mereka alhamdullilah diterima di PTN juga, Wildan di Unsika, Yasmin di UPI dan Armelia di UIN Bandung.

Tahun 2019 selain angkatan Wildan saya juga terus membimbing adik-adik kelasnya untuk selalu ikut tambahan ekonomi dan ikut segala lomba baik ekonomi ataupun akuntansi, angkatan ini mungkin angkatan terakhir yang memilih Ekonomi sebagai mapel pilihan di UN, mereka hanya berempat Naufal, Mikanti, Kikis, dan Kamla. yah karena dari kelas 10 mereka selalu rajin tambahan dan memang nilai-nilai ekonomi mereka selalu bagus dipelajaran saya, kami paling sedikit, dibanding anak Sosiologi dan Geografi. Jadi kalau pemantapan kamilah yang mengalah untuk mencari tempat, karena memang hanya berlima saja belajar bersama saya.

Merekalah yang mungkin paling punya ikatan emosional paling dekat dengan saya, hingga pemantapanpun kami sudah seperti kerja kelompok, sering sekali makan dan main dulu sebelum belajar, ya karena mereka pintar, mereka lebih cepat menyelesaiakan soal-soal, dan jika sisa waktu masih banyak biasanya kita main LUDO di Hpnya Kamla, wkwkkwkwwkk. Hingga akhirnya Corona mulai menyebar dibulan Maret, dan pembelajaran dilakukan secara daring, UN dihapuskan, dan mereka akhirnya lulus dari sekolah, tanpa adanya acara perpisahan maupun wisuda, sedih memang, tapi sekali lagi, saya bersyukur memliki mereka, tahun ini Mikanti diterima di UPI dan Kikis diterima di UNPAD, ya walaupun Kamal dan Naufal tidak diterima di PTN, tapi saya sangat bersyukur bahwa anak Olim Ekonomi adalagi yang masuk PTN.

Dan begitulah... bagi saya mudah-mudahan ini menjadi motivasi, agar saya selalu semangat belajar dan mengajar anak-anak saya disekolah, sebuah kebahagiaan yang tidak terkira bisa melihat anak-anak berhasil meraih cita-cita dan impiannya, mudah-mudahan kedepan semakin banyak anak Olim Ekonomi yang juara di kompetisi dan bisa diterima di PTN, oh iya tahun ini alhamdullilah adik kelasnya Mikanti ada juga yang sedang ikut kompetisi Akuntansi di UGM, meski saya tidak punya target harus menang dan juara, tapi saya selalu bersyukur pada proses belajar merek yang cukup rajin tambahan tiap pekan dengan saya.

Saya berharap ilmu saya dapat terus bertambah dan dapat dipahami oleh semua murid-murid saya disekolah, semoga saya bisa benar-benar menjadi Guru Ekonomi Yang Baik, aamiin

Salam Ekuilibrium!!!

Bandung, 31 Oktober 2020

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar