Dari Zaid bin
Arqam r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. mengucapkan – dalam doanya yang
artinya:
Ya Allah,
sesungguhnya saya mohon perlindungan kepadaMu daripada kelemahan dan kemalasan,
kekikiran dan usia terlampau tua serta siksa kubur.
Ya Allah,
berikanlah kepada jiwaku ini untuk dapat bertaqwa kepadaMu, juga sucikanlah
jiwaku itu karena Engkau adalah sebaik-baik Zat yang dapat menyucikannya.
Engkaulah yang Maha Menguasai serta yang menjadi Tuhannya. Ya Allah,
sesungguhnya saya mohon perlindungan kepadaMu daripada ilmu pengetahuan yang
tidak bermanfaat, dari hati yang tidak dapat khusyu’,dari jiwa yang tidak
puas-puas dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (Riwayat Muslim)
Penyesalan itu selalu datang diakhir... dan mungkin
penyesalanlah yang membuat seseorang
akan benar-benar melakukan yang terbaik untuk membayar penyesalan itu...
Seorang muslim... tak boleh melihat apa yang sudah terjadi
kebelakang... tidak boleh berlarut-larut dalam keadaan yang membuat ia
berkata... seandainya... kalau saja.... jika saja....
Bukankah Allah telah memberikan waktu kepada kita? Dan tak
mungkin juga waktu yang telah berlalu akan kembali lagi...
Waktu dijam dinding menunjukkan pukul 20.15... seorang gadis
tengah membuka sebuah laptop, sepertinya ada yang ingin ia selesaikan malam
itu, ia sudah mengenakan pakaian piyama, itu artinya ia sudah siap untuk tidur.
Namun tiba-tiba saja sebuah sms masuk ke handphonenya...
“Teh ada ta’lim gak malem ini? Ini anak-anak udah pada
kumpul dimesjid”
Ia tidak berfikir panjang..., ia menjawab smsnya “ Tungguin, teteh kesana
yah”, perempuan muda itu segera mangganti bajunya, ia segera mengenakan
jilbabnya, mengenakan jaketnya, membawa kitab Riyadhus Shalihin, dan segera
bergegas menuju mesjid... langkah
kakinya cepat, ia tau ia sedang ditunggu adik-adiknya dimesjid.
Diiringi gerimis gadis itu berjalan sendiri menuju
mesjid...., ia hanya seorang gadis biasa, bukan seorang ustadzah bukan juga
seorang murabbiah... ia hanya gadis biasa yang ingin membayar kesalahannya
dimasa lalu...
Ia bertanya pada hatinya?
“Mengapa dulu ketika
SMA aku tidak pernah bersungguh-sungguh belajar Islam,
dan membina adik-adikku disekolah?, mengapa selepas meninggalkan sma tak pernah
kembali lagi untuk adik-adikku? Pun ketika dikampus, mengapa tidak sepenuh hati
bergabung di LDK dan belajar lebih banyak tentang Islam dan mengamalkannya untuk adik-adik
tingkat?”
Keesokan harinya seorang pemuda berusia 19 tahun data
ng
bertamu kerumah gadis itu..., iya yang usianya lebih muda 7 tahun darinya
hendak meminjam beberapa buku padanya..., namun akhirnya pemuda itu
menyampaikan sesuatu yang membuat hatinya menjadi kecut.
“Tetah tau kan kondisi anak-anak kaya gimana sekarang? Mereka tidak sebaik keliatannya, mereka butuh dibina, butuh pengarahan, memang teteh mau setelah teteh berhenti ,
tidak ada lagi akhwat yang akan melanjutkan
perjuangan teteh dimesjid?”
“Iya tau... tapi kan... dakwah sendiri itu lebih sulit,
lebih berat...”
“Emang ada dakwah yang mudah teh?”
“Ya seenggaknya kalo ada temen, ada patner semuanyanya akan jauh lebih mudah
kan?”
“Justru sendiri itu lebih bagus, pahalanya lebih besar kan?
Dan itu amal jariyah yang gakan pernah putus kan?”
“Iya tapi kan ilmu teteh belum banyak, ibadahnya gini-gini
aja, belum pernah ditraining, masih
butuh pembinaan?”
“teteh banyak ngeluhnya”
*tiba-tiba hening
“Seandainya semua
orang berfiikiran sama seperti teteh... saya yakin dakwah tidak akan pernah
ada, karena tidak akan ada orang yang mau melakukannya....”
Dan aku mulai berfikir... saat doa-doaku belum juga Allah
kabulkan...
Mungkin ada kewajiban yang belum aku tunaikan... ada hak
Allah yang aku abaikan...
Bandung 8 Februari 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar